Entah bagaimana kelak ketika engkau sudah meninggalkan kami, ketika akan menjalani kehidupan kami sendiri-sendiri, jasa-jasa mu, pengorbanan mu, yang amat berharga untuk kami, kasih sayang yang amat berharga di kalah matahari menyambut pagi kau tetap tersenyum untuk memeluk kami.
Rasa sayang kami selama ini, belum kami berikan sepenuhnya walau itu hanya sebatas kasih sayang kami kepada mu, rasa sesal, kepedihan, ketakutan mulai menyelimuti di kalah malam, di kalah sang rembulan menyinari sang malam, walau banyak bintak di langit, tetapi rasa itu tak akan ada artinya jika engkau tak ada di samping ku.
Ibu kami tidak tau lagi apa yang akan kami berikan kepada mu, tanpa ada engkau ibu di samping kami, mungkin kami akan bagaikan batang pohon yang tumbuh dengan iringan waktu, kata-katamu, nasehat mu, pengertian mu, kami selalu merindukan mu, kami selalu rindu ibu di saat kami masih kecil, di saat kami masih ingin di temani mu sepanjang hari, sepanjang waktu.
Ibu kami tidak tau lagi, apa yang akan kami berikan lagi kepada mu, sudah lebih dari cukup kau memberikan kami, kau sudah selalu memberikan apa yang kami minta, meski engkau sebenarnya tidak mempunyai uang yang amat besar tetapi engkau selalu berusaha untuk memberikan apa yang kami inginkan dan kami hanya bisa memberikan doa dan doa agar engkau selalu di berikan kesehatan dan umur yang berkah.
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu
Untuk mu Ibu Ku, dari anak-anak mu......
|
|
|
||||||
|
|
|
Catatan Menarik Mantan Wartawan TEMPO :
Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi
seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya
terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai
dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan
Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku
pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media
TEMPO.
Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara
memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara
adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi,
sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari
praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam
dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari
kosakata ‘Jelas’.
“Jelas nggak nih acaranya?”
“Ada kejelasan nggak nih?”
“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”
Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan.
Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi
alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan
berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah
menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi
Wartawan’.
Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum
dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku
tersebut.
Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.
“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.
Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis
Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam
peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang
bermain seperti itu.
Namun fakta berkata lain. Sempat tidak
percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan,
Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa
wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan
lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.
Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek
bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang
diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh.
Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan
uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi,
pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik,
Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang
menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang
wartawan.
Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala
mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan
perbankan?
Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?
Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia)
yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri?
Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa
nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat
menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman.
Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi
pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad
di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang di dalam grup TEMPO.
Siapa bilang TEMPO bersih?
Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong
saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie
di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik
terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat
peluang itu dan memborong saham Bakrie.
Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas.
Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya
dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari
Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos
tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya
mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan
iklan bagi perusahaan.
TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji
cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4
jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang
dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian,
sementara para senior bermain proyek pemberitaan.
Media sekelas
TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas,
tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi.
Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka
di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang.
Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?
Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran
dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)?
Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela
Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana
Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery?
Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam
Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara
Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti
juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar.
Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie,
tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat
itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data
keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa
‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei
kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan
grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2
miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO
sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media
lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa?
Fakta-fakta
itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya
yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau
boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak
berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat
adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup
TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama
wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual
beli pencitraan, layaknya jasa konsultan.
Mereka, media-media
besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih
luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi
kelas berat.
Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya
masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang
dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja,
TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather
mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup
TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi
jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun
kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di
bawah Bambang Harimurti.
Saya pribadi, memutuskan resign dari
TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO,
kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan
uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan
media-media besar lainnya.
Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi.
Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri
pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup
TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di
sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO.
Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan
eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai
Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank
Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri
Iskandar Tumbuan.
Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky
Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media
Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu
juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat
mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos
Mandiri, pak Iskandar pun pamit.
Sambil menyeruput kopi pagi,
saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar
kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada
obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait
kasus SKK Migas.
Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan
mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena
memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul
perilaku wartawan.
Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya.
“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi
Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank
Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap,
pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi
ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU
Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan
memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan,
transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia,
PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu
memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK
Migas,” tuturnya.
“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi
Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho
lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai
oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni
bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak
sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi
komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas
meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,”
ungkapnya.
“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan
agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan
Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun
Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah
bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu
perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus
suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya.
“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data
dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi
penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data
utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho,
yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian
dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar
dia.
“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada
para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada
arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak
Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi
dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu
besar, salah langkah bisa berabe akibatnya. Gua sih yakin, saat itu
bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan
jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada
dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.
“Eeh, tau-tau
Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM
(Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama
Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang
belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat
kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData
bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi,
tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh
asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.
“Menurut Pak
Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias
ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank
Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak
takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap
proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),”
singkap dia.
“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus
2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu
mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk
opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank
Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia.
“Ini kan semacam
pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang
Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI
(Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu
edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO
dalam memeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu
ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri)
akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau
tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak
sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar
memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia.
Mendengar
cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi
menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah
menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi
jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas,
Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan
lain-lain.
Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta
terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih.
Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak
hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam
organisasi tempatmu bekerja.
Hampir mirip seperti PNS,
mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak,
karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di
lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada
grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan
korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik
mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan.
TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam
grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di
organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.
Saya
bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Lebih senang dan
tenang batin bekerja sebagai buruh biasa seperti yang saya lakukan kini.
Insya Allah jauh dari dunia hitam. (Jilbab Hitam, mantan wartawan Tempo )
KAMPUS dikenal sebagai tempat lahir dan bertelurnya
kaum intelektual di mana setiap kegiatan kemahasiswaan dan pergerakan
sosial berpusat, seperti perkuliahan dan aktivitas akademika lainnya.
Namun, sekarang ini kampus lebih terlihat sepi dan lengang akan
aktivitas-aktivitas tersebut bagai telah ditinggalkan mahasiswanya.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Dulu, mahasiswa sering dikenal dengan sebutan agent of change (agen perubahan). Agen yang mampu membawa perubahan yang lebih baik. Dengan aksi-aksinya terbukti mampu menumbangkan pemerintahan Soeharto yang otoriter menuju reformasi. Hal tersebut bak sejarah masa kejayaan mahasiswa. Sekarang, mahasiswa seakan tertidur pulas sampai-sampai tidak tahu kapan akan terbangun.
Dalam aktivitasnya, mahasiswa diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yakni mahasiswa aktif dan pasif. Aktif dan pasif di sini bukan berarti dalam kegiatan perkuliahan berlangsung, melainkan di dalam organisasi kampus.
Pertama, mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus. Seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Bahkan saking aktifnya sampai-sampai melupakan kuliah. Sehingga berujung pada terlambatnya menyandang gelar sarjana. Dan akhirnya disebut sebagai MAPALA (Mahasiswa Paling Lama), mahasiswa abadi ataupun donatur tetap.
Kedua, mahasiswa pasif, yakni mahasiswa yang hanya berkutat pada kuliah semata. Setiap hari hanya bercengkraman dengan buku dan tugas kuliah. Seakan-akan mereka tidak ingin tahu tentang kegiatan kampus. Hingga ada yang menyebutnya mahasiswa KPK, yakni Kuliah, Pacaran, dan Kembali pulang.
Mungkin mereka takut jika ikut dalam organisasi kampus akan menyita waktu, bahkan mengganggu aktivitas kuliah. Tapi kembali lagi semuanya itu tergantung pada individu masing-masing.
Keduanya itu merupakan sebuah pilihan yang harus dijalani setiap mahasiswa di mana pun berada. Dan di setiap pilihan tersebut mempunyai konsekuensi tersendiri yang harus mereka tanggung.
Sekarang ini, kebanyakan mahasiswa lebih cenderung memilih untuk menjadi mahasiswa yang pasif. Mereka seakan acuh dengan apa yang mereka dengar dan lihat, seperti kebijakan universitas atau fakultas yang merugikan mahasiswa. Walaupun sebenarnya mereka juga ingin mengkritisinya. Tapi, mereka takut dengan dampak yang akan mereka tanggung jika berani berurusan dengan pihak universitas maupun fakultas. Lantas, bagaimana bisa mahasiswa menjadi agent of change (agen perubahan)?
Mahasiswa seharusnya lebih aktif dalam menyingkapi sebuah permasalahan yang terjadi di dalam kampus. Dan tidak segan-segan untuk bertindak ketika memang benar-benar diperlukan. Bertindak di sini bukan berarti melakukan demo besar-besaran ataupun aksi-aksi yang anarkis, melainkan dengan duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Sehingga tidak ada salah satu pihak pun yang akan dirugikan. Dengan demikian peran mahasiswa sebagai agen perubahan dapat terwujud.
Ayo mahasiswa Indonesia, bangunlah dari tidur panjang kalian!
M Dwi Purwanto
Penulis adalah mahasiswa Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muria Kudus
Dulu, mahasiswa sering dikenal dengan sebutan agent of change (agen perubahan). Agen yang mampu membawa perubahan yang lebih baik. Dengan aksi-aksinya terbukti mampu menumbangkan pemerintahan Soeharto yang otoriter menuju reformasi. Hal tersebut bak sejarah masa kejayaan mahasiswa. Sekarang, mahasiswa seakan tertidur pulas sampai-sampai tidak tahu kapan akan terbangun.
Dalam aktivitasnya, mahasiswa diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yakni mahasiswa aktif dan pasif. Aktif dan pasif di sini bukan berarti dalam kegiatan perkuliahan berlangsung, melainkan di dalam organisasi kampus.
Pertama, mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus. Seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Bahkan saking aktifnya sampai-sampai melupakan kuliah. Sehingga berujung pada terlambatnya menyandang gelar sarjana. Dan akhirnya disebut sebagai MAPALA (Mahasiswa Paling Lama), mahasiswa abadi ataupun donatur tetap.
Kedua, mahasiswa pasif, yakni mahasiswa yang hanya berkutat pada kuliah semata. Setiap hari hanya bercengkraman dengan buku dan tugas kuliah. Seakan-akan mereka tidak ingin tahu tentang kegiatan kampus. Hingga ada yang menyebutnya mahasiswa KPK, yakni Kuliah, Pacaran, dan Kembali pulang.
Mungkin mereka takut jika ikut dalam organisasi kampus akan menyita waktu, bahkan mengganggu aktivitas kuliah. Tapi kembali lagi semuanya itu tergantung pada individu masing-masing.
Keduanya itu merupakan sebuah pilihan yang harus dijalani setiap mahasiswa di mana pun berada. Dan di setiap pilihan tersebut mempunyai konsekuensi tersendiri yang harus mereka tanggung.
Sekarang ini, kebanyakan mahasiswa lebih cenderung memilih untuk menjadi mahasiswa yang pasif. Mereka seakan acuh dengan apa yang mereka dengar dan lihat, seperti kebijakan universitas atau fakultas yang merugikan mahasiswa. Walaupun sebenarnya mereka juga ingin mengkritisinya. Tapi, mereka takut dengan dampak yang akan mereka tanggung jika berani berurusan dengan pihak universitas maupun fakultas. Lantas, bagaimana bisa mahasiswa menjadi agent of change (agen perubahan)?
Mahasiswa seharusnya lebih aktif dalam menyingkapi sebuah permasalahan yang terjadi di dalam kampus. Dan tidak segan-segan untuk bertindak ketika memang benar-benar diperlukan. Bertindak di sini bukan berarti melakukan demo besar-besaran ataupun aksi-aksi yang anarkis, melainkan dengan duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Sehingga tidak ada salah satu pihak pun yang akan dirugikan. Dengan demikian peran mahasiswa sebagai agen perubahan dapat terwujud.
Ayo mahasiswa Indonesia, bangunlah dari tidur panjang kalian!
M Dwi Purwanto
Penulis adalah mahasiswa Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muria Kudus








