Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
KAMPUS dikenal sebagai tempat lahir dan bertelurnya kaum intelektual di mana setiap kegiatan kemahasiswaan dan pergerakan sosial berpusat, seperti perkuliahan dan aktivitas akademika lainnya. Namun, sekarang ini kampus lebih terlihat sepi dan lengang akan aktivitas-aktivitas tersebut bagai telah ditinggalkan mahasiswanya. Mengapa hal itu bisa terjadi?  

Dulu, mahasiswa sering dikenal dengan sebutan agent of change (agen perubahan). Agen yang mampu membawa perubahan yang lebih baik. Dengan aksi-aksinya terbukti mampu menumbangkan pemerintahan Soeharto yang otoriter menuju reformasi. Hal tersebut bak sejarah masa kejayaan mahasiswa. Sekarang, mahasiswa seakan tertidur pulas sampai-sampai tidak tahu kapan akan terbangun.

Dalam aktivitasnya, mahasiswa diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yakni mahasiswa aktif dan pasif. Aktif dan pasif di sini bukan berarti dalam kegiatan perkuliahan berlangsung, melainkan di dalam organisasi kampus.

Pertama, mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus. Seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ataupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), baik tingkat Fakultas maupun Universitas. Bahkan saking aktifnya sampai-sampai melupakan kuliah. Sehingga berujung pada terlambatnya menyandang gelar sarjana. Dan akhirnya disebut sebagai MAPALA (Mahasiswa Paling Lama), mahasiswa abadi ataupun donatur tetap.

Kedua, mahasiswa pasif, yakni mahasiswa yang hanya berkutat pada kuliah semata. Setiap hari hanya bercengkraman dengan buku dan tugas kuliah. Seakan-akan mereka tidak ingin tahu tentang kegiatan kampus. Hingga ada yang menyebutnya mahasiswa KPK, yakni Kuliah, Pacaran, dan Kembali pulang.

Mungkin mereka takut jika ikut dalam organisasi kampus akan menyita waktu, bahkan mengganggu aktivitas kuliah. Tapi kembali lagi semuanya itu tergantung pada individu masing-masing.

Keduanya itu merupakan sebuah pilihan yang harus dijalani setiap mahasiswa di mana pun berada. Dan di setiap pilihan tersebut mempunyai konsekuensi tersendiri yang harus mereka tanggung.

Sekarang ini, kebanyakan mahasiswa lebih cenderung memilih untuk menjadi mahasiswa yang pasif. Mereka seakan acuh dengan apa yang mereka dengar dan lihat, seperti kebijakan universitas atau fakultas yang merugikan mahasiswa. Walaupun sebenarnya mereka juga ingin mengkritisinya. Tapi, mereka takut dengan dampak yang akan mereka tanggung jika berani berurusan dengan pihak universitas maupun fakultas. Lantas, bagaimana bisa mahasiswa menjadi agent of change (agen perubahan)?

Mahasiswa seharusnya lebih aktif dalam menyingkapi sebuah permasalahan yang terjadi di dalam kampus. Dan tidak segan-segan untuk bertindak ketika memang benar-benar diperlukan. Bertindak di sini bukan berarti melakukan demo besar-besaran ataupun aksi-aksi yang anarkis, melainkan dengan duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik. Sehingga tidak ada salah satu pihak pun yang akan dirugikan. Dengan demikian peran mahasiswa sebagai agen perubahan dapat terwujud.

Ayo mahasiswa Indonesia, bangunlah dari tidur panjang kalian!

M Dwi Purwanto

Penulis adalah mahasiswa Bahasa Inggris
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muria Kudus
Di langit ke tujuh,
  riuh gemuruh,
  bersama bidadari ria menari,
  gentayangan arwah jutaan korban siksaan tirani orba,
  bersenandung kidung
  berdendang lantang,
  rentangkan lengan
  mengurai jari-jemari menari,
  genjer-genjer,
  di bulan September.
   
  Di belahan Utara jagat raya,
  belibis liar beterbangan
  ke arah Selatan hindari ancaman kedinginan,
  bayu sejuk membelai hamparan daratan dan pegunungan,
  dedaunan kekuningan berjatuhan,
  menyambut datang musim gugur yang nyaman.
   
  Di bumi belahan Selatan,
  burung-burung berkicauan,
  mengiringi wangi
  bunga-bunga mekar menyambut musim semi.
   
  Di langit ke sembilan,
  tersedu pilu Dewi Keadilan,
  gundah gulana keadilan diperkosa
  penguasa orba Nusantara.
   
  Di khatulistiwa,
  bagai petir di siang bolong membahana,
  bulan Agustus Mahkamah Agung titisan orba,
  memenangkan gugatan sang Tiran,
  memvonis denda satu trilyun rupiah
  majalah Time yang membongkar dosa
  rahasia pencurian harta negara.
   
  Tiran dapat lindungan,
  yang anti tirani dapat hukuman,
  keadilan diperkosa,
  pembodohan bersimarajalela.
   
  Awas !  Awaslah !!!
  Tanda bahaya bagi wartawan sang Ratu Adil,
  tantangan bagi rakyat berani-berani
  menuntut Tiran diadili.
   
  Di kala Sang Tiran senyum menyeringai tersipu menang,
  dan para antek tengah bergendang paha,
  di New York berkumandang pengumuman:
  Soeharto Tiran
  adalah koruptor Agung
  nomor wahid di jagat raya !
   
  Ke arah mana angin bertiup ?
   
  Satu-satu dijajarkan:
  para gembong koruptor dunia,
  penghisap kekayaan negara,
  berlomba kelihayan menimba dosa,
  dari Filipina, Nigeria, Peru, Konggo¡­¡­
  sang juara adalah Soeharto.
   
  Di Cili Pinochet diseret ke meja hijau,
  di Filipina Estrada di vonis seumur hidup,
  di Peru Fujimori diajukan ke pengadilan,
  semua mantan Kepala Negara,
  penguasa,
  maling raksasa kekayaan negara.
   
  Masih berapa lama para pembela orba,
  bertulang-punggung Golkar tambah senjata,
  bisa menggalakkan pembodohan,
  dan bertahan melindungi Tiran ?
   
  Putusan Mahkamah Agung memenangkan gugatan Tiran,
  perkosaan keadilan dan pembodohan,
  menyatakan Pancasila sakti,
  hingga ada Hari Kesaktian Pancasila,
  dan pembakaran buku-buku sejarah,
  jelas-jemelas pembodohan terang-terangan.
   
  Asal ada kebebasan,
  rakyat tak bodoh,
  punya mata dan telinga,
  ada Aditjondro menelanjangi harta karun haram,
  ada Umar Said menghimpun fakta dosa Soeharto,
  ada Asvi Warman melawan pembakaran buku sejarah,
  dan banyak lainnya insan-insan jujur yang tahu kebenaran,
  yang tak mempan dilalap pembodohan.
   
  Di kala Nusantara dilanda duka nestapa,
  mengenang arwah jutaan korban kebiadaban orba,
  kini bertiup angin nyaman,
  lah kian sempit ruang sembunyi bagi sang Tiran.
   
  Sejarah kan menyaksikan,
  kebangkitan rakyat tak tertahan,
  mengutuk dosa tak berampun Soeharto sang Tiran,
  gelombang rakyat bangkit berlawan,
  kan bagai lahar Merapi membludak,
  melanda musnah penguasa orba.
   
  Kaum yang ditindas orba kian bangkit.
  kaum yang dibodohkan bertambah sadar.
   
  Dunia sedang berganti rupa !!!.
   
   
              *****
   
   
29 September 2007.
       

http://old.nabble.com/-sastra-pembebasan--NUSANTARA-BULAN-SEPTEMBER-p12951828.html
Dilambangkan dengan burung garuda: 17 helai bulu pada masing-masing sayap, 8 helai bulu pada ekor, 19 helai bulu di bawah perisai atau pada pangkal ekor, 45 helai bulu di leher.
GARUDA.
* Garuda Pancasila sendiri adalah burung Garuda yang sudah dikenal melalui mitologi kuno sejarah bangsa Indonesia sebagai kenderaan whisnu yang menyerupai burung elang rajawali. Garuda digunakan sebagai lambang negara untuk menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara yang besar dan kuat.
* Warna keemasan pada burung Garuda melambangkan keagungan dan kejayaan.
* Garuda memiliki paruh, sayap, ekor dan cakar yang melambangkan kekuatan dan tenaga pembangunan.
* Jumlah bulu burung Garuda melambangkan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, antara lain :
- 17 helai bulu pada masing-masing sayap.
- 8 helai bulu pada ekor.
- 19 helai bulu dibawah perisai atau pada pangkal ekor.
- 45 helai bulu pada leher.
PERISAI
* Perisai adalah tameng yang merupakan bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan.
* Ditengah perisai terdapat garis hitam tebal yang, melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa yang membentang dari timur ke barat.
* Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia “merah putih”. Sedangkan pada pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam.
* Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar negara Pancasila.
Pita Bertuliskan BHINNEKA TUNGGAL IKA
* kedua kaki Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika berwarna hitam.
* Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah kutipan dari Kakawin Sotasoma karya Mpu Tantular. Kata “bhinneka” berati beraneka ragam atau berbeda-beda, “tunggal” berarti satu, “ika” berati itu. Secara harfiah kata Bhinneka Tunggal Ika artinya adalah : Berbeda beda tetapi satu jua. Melambangkan dan menegaskan bahwa meski memiliki keberagaman suku bangsa adat budaya dan agama tetapi dengan persatuan dan kesatuan dapat mewujudkan negara Republik Indonesia

Berikut ini adalah Isi dan Lambang Pancasila Dasar Negara RI  beserta Makna Kelima Sila Tersebut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa : dilambangkan dengan cahaya di bagian tengah perisai berbentuk bintang yang bersudut lima berlatar hitam.
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab: dilambangkan dengan tali rantai bermata bulatan dan persegi di bagian kiri bawah perisai berlatar merah.
Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.Berani membela kebenaran dan keadilan.Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
3. Persatuan Indonesia: dilambangkan dengan pohon beringin di bagian kiri atas perisai berlatar putih.
Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: dilambangkan dengan kepala banteng di bagian kanan atas perisai berlatar merah.
Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia: dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih.
Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.Menghormati hak orang lain. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.Suka bekerja keras.Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Sejarah Hari Kelahiran Pancasila

Menjelang kekalahannya di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Pada tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mendapat giliran untuk menyampaikan gagasannya tentang dasar negara Indonesia Merdeka, yang dinamakannya Pancasila. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.
Selanjutnya BPUPKI membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno itu. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, HA Salim, Achmad Soebardjo dan Muhammad Yamin) yang bertugas : Merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen itu sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Demikianlah, lewat proses persidangan dan lobi-lobi akhirnya Pancasila penggalian Bung Karno tersebut berhasil dirumuskan untuk dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sebagai dasar negara Indonesia Merdeka pada tanggal 18 Agustus 1945.
Dalam kedudukan sebagai pemimpin bangsa, Bung Karno tidak pernah melepaskan kesempatan untuk tetap menyosialisasikan Pancasila. Lewat bebagai kesempatan, baik pidato, ceramah, kursus, dan kuliah umum, selalu dijelas-jelaskannya asal-usul dan perkembangan historis masyarakat dan bangsa Indonesia, situasi dan kondisi yang melingkupinya, serta pemikiran-pemikiran dan filosofi yang menjadi dasar dan latar belakang “lahirnya” Pancasila. Juga selalu diyakin-yakinkannya tentang benarnya Pancasila itu sebagai satu-satunya dasar yang bisa dijadikan landasan membangun Indonesia Raya dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke, yang merdeka dan berdaulat penuh, demokratis, adil-makmur, rukun-bersatu, aman dan damai untuk selama-lamanya. Sumber : DIKPORA DIY


http://www.kopertis12.or.id/2013/06/01/memperingati-hari-kelahiran-pancasila-1-juni-1945-1-juni-2013.html
Indonesia sudah memasuki tahun ke-67thn. Bagaimana dengan nasib mereka yang masih menggantungkan nasib pada Negeri ini, sudah 67thn Indonesia lepas dari penjajahan namun kenapa masih saja belum ada rasa nasionalisme pada rakyat kecil, semua terlantar tidak yang pertanggung jawaban dari pemerintah. Hanya bisa melihat, mendengarkan dan bertepuk tangan.

Bagaimana dengan nasib regenerasi mudah saat ini, semua di salahkan tidak ada yang mengajarkan mereka untuk bisa peduli satu sama lain seperti bunyi pancasila yang ke-5 "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia", apakah itu hanya sebuah tulisan kosong jika mereka tidak sadar bagaimana pentingnya nilai sosial tanpa memandang dari Ras, Agama, Suku. Karena semua adalah kesatuan dan persatuan dari Indonesia.

Bagaimana dengan pandangan jaman sekarang semua selalu memandang sebelah mata, tanpa melihat kita terlahir di mana dan berbangsa apa. Sudah 67thn Indonesia Merdeka, sudah berbagai pengorbanan yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kita untuk mengenang masa perjuangan membela Tanah Air, tapi sayangnya hanya sedikit yang mau menghargai pengorbanan mereka, kakek buyut kita berjuang demi nama bangsa untuk cucu kita kelak, tapi kenapa pengorbanan itu hanya di ingat pada "hari ini' 17 Agustus, kenapa tidak setiap hari??

Satu persatu bendera merah putih akan luntur, dengan ketidak harmonisan bangsa ini. Rakyat kecil selalu tertindas, biaya pendidikan semakin mahal, biaya pengobatan tidak menjamin kesembuhan untuk mereka yang tak mampu membeli obat, semua lahan persawahan di jadikan kota, apakah masih ada lahan untuk sandang pangan yang layak, Indonesia kaya segalanya, Indonesia tidak Negara yang sangat di cintai oleh seluruh Negara di Dunia, namun sayangnya hanya sedikit yang peduli dengan Budaya, Alam, Kekayaan Wisata Tanah Air ini.

Nenek Moyang berjuang membela Negara ini sampai titik darah penghabisan, semua mengorbankan keluarganya untuk mempertahankan Tanah Air ini, semua sudah melakukan demi anak cucu-Nya, agar bisa hidup sejahtera. Lantas bagaimana dengan sistem pemerintahan sekarang apakah bisa membawa kesejahteraan yang sudah di bangun oleh Nenek Moyang kita semua. Jika memang Indonesia sudah Merdeka sejak 67thn yang lalu mungkin semua sudah merasa nyaman tidak seperti saat ini, semua melakukan segala cara untuk membiayayi kehidupan keseharian-harian mereka.

Hempitan ekonomi membuat semua menjadi "Serakah" tanpa melihat satu sama lain, Persatuan dan Kesatuan Tanah Air di Indonesia semakin berkurang, dengan adanya berbagai macam kasus yang belum terselesaikan. Korupsi di mana-mana, Teroris selalu menyebar dan menghancurkan setiap rumah agama, walau agama, ras, suku, budaya berbeda. Tidak rasa hormat sama sekali.

Masih banyak generasi-generasi mudah yang mempunyai potensi dan menghasilkan ilmu bermanfaat untuk Negeri ini, entah kenapa mereka selalu di asingkan. layaknya di "anak tiri kan". Walau mereka miskin tapi kemauan dan tekad untuk Negara sangatlah kuat.

Semoga di tahun ke 67thn Indonesia semakin berkembang, semakin bertambahnya regenarasi mudah yang bermanfaat bagi seluru Bangsa dan Tanah Air kita


SALAM SATU NUSA SATU BANGSA UNTUK NEGERI KU TERCINTA INDONESIA 
SELAMAT HARI KEMERDEKAAN KE-67

Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Kebudayaan nasional
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni:

"Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bai Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199"

Kebudayaan nasional dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Kutipan pernyataan ini merujuk pada paham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, serta bahasa nasional. Definisi yang diberikan oleh Koentjaraningrat dapat dilihat dari peryataannya:
“yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”. Pernyataan ini merujuk pada puncak-puncak kebudayaan daerah dan kebudayaan suku bangsa yang bisa menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia jika ditampilkan untuk mewakili identitas bersama.Nunus Supriadi, “Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional”

Pernyataan yang tertera pada GBHN tersebut merupakan penjabaran dari UUD 1945 Pasal 32. Dewasa ini tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia sedang mempersoalkan eksistensi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional terkait dihapuskannya tiga kalimat penjelasan pada pasal 32 dan munculnya ayat yang baru. Mereka mempersoalkan adanya kemungkinan perpecahan oleh kebudayaan daerah jika batasan mengenai kebudayaan nasional tidak dijelaskan secara gamblang.

Sebelum di amandemen, UUD 1945 menggunakan dua istilah untuk mengidentifikasi kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. Kebudayaan bangsa, ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagi puncak-puncak di daerah-daerah di seluruh Indonesia, sedangkan kebudayaan nasional sendiri dipahami sebagai kebudayaan angsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.

Wujud kebudayaan daerah di Indonesia
Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia. Setiap daerah memilki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Berikut ini beberapa kebudayaan Indonesia berdasarkan jenisnya:

Rumah adat :
  • Aceh: Rumoh Aceh
  • Sumatera Barat: Rumah Gadang
  • Riau: Selaso Jatuh Kembar, Lontiok
  • Sumatera Selatan: Rumah Limas
  • Jawa: Joglo
  • Papua: Honai
  • Sulawesi Selatan: Tongkonan (Tana Toraja), Bola Soba (Bugis Bone), Balla Lompoa (Makassar Gowa)
  • Sulawesi Tenggara: Istana Buton
  • Sulawesi Utara: Rumah Panggung
  • Kalimantan Barat: Rumah Betang
  • Nusa Tenggara Timur: Lopo
  • Maluku: Balieu (dari bahasa Portugis)

Tarian

Tarian Indonesia mencerminkan kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih dari 700 suku bangsa di Indonesia: dapat terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri; Di Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi kuno tarian dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang dilindungi oleh pihak keraton atau akademi seni yang dijalankan pemerintah.
Untuk keperluan penggolongan, seni tari di Indonesia dapat digolongkan ke dalam berbagai kategori. Dalam kategori sejarah, seni tari Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga era: era kesukuan prasejarah, era Hindu-Buddha, dan era Islam. Berdasarkan pelindung dan pendukungnya, dapat terbagi dalam dua kelompok, tari keraton (tari istana) yang didukung kaum bangsawan, dan tari rakyat yang tumbuh dari rakyat kebanyakan. Berdasarkan tradisinya, tarian Indonesia dibagi dalam dua kelompok; tari tradisional dan tari kontemporer.
  
Lagu
Identitas musik Indonesia mulai terbentuk ketika budaya Zaman Perunggu bermigrasi ke Nusantara pada abad ketiga dan kedua Sebelum Masehi. Musik-musik suku tradisional Indonesia umumnya menggunakan instrumen perkusi, terutama gendang dan gong. Beberapa berkembang menjadi musik yang rumit dan berbeda-beda, seperti alat musik petik sasando dari Pulau Rote, angklung dari Jawa Barat, dan musik orkestra gamelan yang kompleks dari Jawa dan Bali
Musik di Indonesia sangat beragam dikarenakan oleh suku-suku di Indonesia yang bermacam-macam, sehingga boleh dikatakan seluruh 17.508 pulaunya memiliki budaya dan seninya sendiri. Indonesia memiliki ribuan jenis musik, kadang-kadang diikuti dengan tarian dan pentas. Musik tradisional yang paling banyak digemari adalah gamelan, angklung dan keroncong, sementara musik modern adalah pop dan dangdut.

Gambar
  • Jawa: Wayang 
  • Sumatera Utara: Tortor

Patung

  • Jawa: Patung Buto
  • Bali: Garuda Wisnu Kencana
  • Papua: Asmat 

Pakaian

  • Jawa: Batik
  • Sumatera Utara: Ulos, Suri-suri, Gotong
  • Sumatera Barat/Minang: Anak Daro, Marapule.
  • Riau/Melayu: Baju Kurung Melayu, Kebaya Laboh, Cekak Musang, Teluk Belanga
  • Sumatera Selatan: Songket
  • Lampung: Tapis
  • Nusa Tenggara Timur: Tenun Ikat
  • Bugis/Makassar: Baju Bodo, Jas Tutup, Baju La'bu
  • Papua Timur: Manawou
  • Papua Barat: Ewer

    Suara

  • Jawa: Sinden
  • Sumatera Utara: Talibun
  • Gorontalo: Dikili

Sastra/tulisan

Sastra Indonesia adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Baru-baru ini Indonesia dan Malaysia tengah diramaikan dengan masalah klaim budaya. Pasalnya beberapa budaya Indonesia telah dikalaim Malaysia dan diakui sebagai budaya negeri Jiran tersebut. Beberapa kali ini Malaysia kedapatan mengklaim budaya Indonesia sebagai budaya mereka. Padahal berbagai macam bukti dan arsip menyatakan bahwa budaya tersebut adalah budaya dari Indonesia.

Berikut ini daftar budaya Indonesia yang diklaim oleh Malaysia :

1. BATIK
Batik di klaim Malaysia terhadapa batik membuat pengrajin batik Indonesia resah. Padahal menurut sejarah, batik itu asli milik Indonesia. Agar klaim Malaysia ini bisa teratasi, Indonesia akhirnya mencantumkan batik sebagai Warisan Budaya tak Benda (Intangible Cultural Haritage) di UNESCO.

2.TARI PENDET
Malaysia mengklaim tari pendet sebagai iklam promosi kunjungan ke Malaysia "Visit Malaysia Years". Padahal sudah jelas, tari pendet adalah budaya dari Bali, Indonesia.

3.WAYANG KULIT
Malaysia pernah mengklaim wayang kulit sebagai budayanya. Padahal sudah jelas wayang kulit ini adalah budaya khas Jawa. Pertenjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 27 November 2003, sebagai karya. kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi.

4. ANGKLUNG
Angklung adalah budaya khas dari masyarakat Sunda, Jawa Barat, Indonesia. Warisan leluhur ini juga pernha diklaim oleh Malaysia.

5.REONG PONOROGO
Reong Ponorogo khas Jawa Timur ini pernah heboh lantaran muncul di Negeri Jiran. Namun, pada akhir November 2007, Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Zanal Abidin Muhammad Zain menyatakan negeranya tidak mengklaim Reog Ponorogo sebagai budayanya.
6.KUDA LUMPING
Kuda Lumping adalah tarian khas Jawa, Indonesia. Namun beberapa kaum Jawa yang pindah ke Singapura juga mewariskan tarian ini pada generasi di Singapura. Namun kuda lumping ini tetap milik budaya Indonesia.

7.KERIS
Keris adalah salah satu senjata para raja Majapahit. Wilayah yang paling banyak memakai keris adalah Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatra, Pesisir Kalimantan dan Sulawesi.

8.RENDANG PADANG 
RENDANG PADANG adalah makanan khas daerah Padang (Sumatera Barat). Rendang dibuat dari daging sapi atau kerbau yang di masak dengan santan dan rempah-rempah dengan cara direndang selama 5-8 jam.

10. TARI PIRING
Tari Piring ini adalah salah satu seni tari tradisional di Miangkabau yang berasal dari kota solok, provinsi Sumatra Barat.

11. ULOS
Ulos atau kain Ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turung temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatra, Indonesia.

selain itu masih ada lagi budaya-budaya yang di klaim oleh Malaysia seperti
>Lagu RASA SAYANGE
>Lagu SOLERAM dari RIAU
>Lagu INJIT-INJIT SEMUT dari JAMBI
>Lagu ANAK KAMBING SAYA dari NUSA TENGGARA
>Lagu JALI-JALI

dan ini lah berbagai budaya yang pernah di klaim oleh Negeri Jiran, apa kalian rela budaya asli dari Tanah Air kita di ambil oleh orang-orang yang punya rasa manusiawi, lantas bagaimana kita sebagai generasi mudah untuk terus melindungi Budaya kita???


Indonesia adalah negara berkembang yang masih mengalami berbagai proses pembangunan. Di sektor pendidikan, Indonesia masih kurang mengembangkan SDM yang dimiliki masyarakat. Buktinya, dalam sebuah survei mutu pendidikan, Indonesia menempati urutan ketiga dari bawah di antara 40 negara lain.
Sistem pendidikan di Indonesia selalu disesuaikan dengan kondisi politik dan birokrasi yang ada. Padahal menurut saya, itu bukanlah masalah utama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Yang lebih penting adalah bagaimana pelaksanaan di lapangan, termasuk kurangnya pemerataan pendidikan, terutama di daerah tertinggal.

Dapat terlihat bahwa pemerataan pendidikan di Indonesia belum tercapai, seperti dapat terlihat pada tahun 1999 angkaa Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD mencapai 94,4%. Namun, APM untuk usia SLTP masih berkisar 54,8% dan SLTA 31,5%. Ketidakmerataan ini umumnya terjadi pada kelompok masyarakat pedesaan dan kelompok miskin. Pemerataan pendidikan masyarakat miskin di Indonesia dapat dibagi menjadi pemerataan pendidikan formal dan non-formal.

  • Pendidikan Formal
Masalah pemerataan pendidikan merupakan masalah di bidang pendidikan pada negara berkembang seperti Indonesia. Berdasarkan data yang diperoleh dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dari periode 2001/02 sampai 2005/06, angka partisipasi murni SD di Indonesia cukup bagus sebesar 94,20%. Untuk level pendidikan SMP, SMU dan Perguruan Tinggi terjadi ketidakmerataan pendidikan dengan angka partisipasi bersekolah yang kecil.
Jika melihat angka partisipasi murni untuk usia SMP tahun 2005/2006 (data dari Depdiknas) maka menunjukkan angka 62,06% yang berarti 37,94% yang tidak dapat melanjutkan ke pendidikan SMP. Itupun belum memperhitungkan jumlah anak yang putus sekolah, maka jumlah tersebut akan berkurang. APM sebesar 42,64% pada level SMU, menunjukkan lebih besarnya jumlah anak usia SMU yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke level SMU. Hal ini juga belum memperhitungkan anak putus sekolah di level pendidikan SMU.

  • Pendidikan Non-formal
Seperti halnya pendidikan formal, pendidikan non-formal pun mengalami permasalahan dalam hal pemerataan pendidikan.Sampai dengan tahun 2006, pendidikan non formal yang berfungsi baik sebagai transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja (transition from school to work) maupun sebagai bentuk pendidikan sepanjang hayat belum dapat diakses secara luas oleh masyarakat. Pada saat yang sama, kesadaran masyarakat khususnya yang berusia dewasa untuk terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya masih sangat rendah, apalagi pendidikan non formal yang pada umumnya membutuhkan biaya yang cukup mahal sehingga tidak dapat terangkau oleh masyarakat miskin.

FAKTOR PENGARUH PENDIDIKAN MASYARAKAT MISKIN RENDAH
Pemerataan pendidikan di Indonesia merupakan masalah yang sangat rumit. Ketidakmerataan pendidikan di Indonesia ini terjadi pada lapisan masyarakat miskin. Faktor yang mempengaruhi ketidakmerataan ini disebabkan oleh faktor finansial atau keuangan. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin mahal biaya yang dikeluarkan oleh individu. Indonesia merupakan negara berkembang yang sebagian besar masyarakatnya hidup pada taraf yang tidak berkecukupan. Masyarakat menganggap bahwa banyak yang lebih penting daripada sekedar membuang-buang uang mereka untuk bersekolah. Selain itu, biaya pendidikan di Indonesia yang relatif mahal jika dibandingkan negara lain meskipun biaya di beberapa tingkat pendidikan telah dibebaskan.
Terlihat bahwa faktor biaya menjadikan pendidikan masyarakat miskin menjadi lebih rendah dibandingkan masyarakat kota. Akses tempat tinggal pun dapat menjadi faktor rendahnya pendidikan masyarakat miskin. Masyarakat miskin yang biasanya bertempat tinggal di desa-desa memiliki akses jalan yang sulit dijangkau. Sehingga pendidikan yang masuk ke dalam masyarakt miskinpun  menjadi minim, padahal desa dapat membantu perekonomian menjadi lebih baik. Disini terlihat dari Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah namun Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang memiliki pendidikan, sehingga SDA yang melimpah kurang dimanfaatkan sebaik mungkin. Tidak hanya ditekankan pendidikan formal saja untuk dapat mengelola SDA, bisa saja pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan pemerintah untuk warga miskin agar dapat memanfaatkan SDA sebaik mungkin sehingga dapat memajukan dan membangun perekonomian.
Fenomena yang ada di Indonesia cukup ironis. Banyaknya lulusan sekolah tingkat menengah dan perguruan tinggi setiap tahunnya, ternyata tidak sebanding dengan lowongan pekerjaan yang disediakan. Hal itu jelas menambah jumlah pengangguran di Indonesia. Bahkan angka pengangguran mencapai 9,5% per tahun. Untuk menuju pemerataan pendidikan yang efektif dan menyeluruh, kita perlu mengetahui beberapa permasalahan mendasar yang dihadapi sektor pendidikan kita. Permasalahan itu antara lain mengenai keterbatasan daya tampung, kerusakan sarana prasarana, kurangnya tenaga pengajar, proses pembelajaran yang konvensional, dan keterbatasan anggaran. Hal inipun menjadi faktor pengaruh pendidikan masyarakat miskin menjadi rendah.
 
UPAYA PEMERINTAH MENANGGULANGI KETIDAKMERATAAN PENDIDIKAN
Merujuk UUD 1945 pasal 31 ayat 4, negara memiliki kewajiban untuk mengatasi rendahnya kemampuan sebagian masyarakat dalam membiayai pendidikan. Akan tetapi sayang, Namun UUD ’45 ternyata bukanlah landasan konstitusi yang dapat memaksa pemerintah untuk melaksanakan amanatnya. Pada kenyataannya, alokasi APBN pada bidang pendidikan masih saja pada bilangan yang sangat jauh dari ketentuan. Ironisnya biaya pendidikan semakin melambung tinggi tanpa mampu dikendalikan bahkan oleh pemerintah sekalipun. Tentu saja hal ini semakin memupuskan harapan rakyat miskin untuk mampu menjamah pendidikan yang layak dan berkualitas. Padahal pendidikan adalah hak mendasar dari setiap warganegara dalam rangka memperbaiki masa depan hidup generasi bangsa.. 
Dengan seiring berjalannya waktu, mengingat bahwa pendidikan itu sangat penting karena merupakan faktor yang menunjang kemajuan suatu negara, maka dewasa ini pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan tingkat pendidikan masyarakatnya, hal itu dapat dilihat sejak tahun 1984, Indonesia telah berupaya untuk memeratakan pendidikan formal Sekolah Dasar, kemudian dilanjutkan dengan Wajib Belajar Sembilan Tahun pada tahun 1994. Selain itu, pemerintah semakin intensif untuk memberikan bantuan berupa beasiswa, seperti Gerakan Orang Tua Asuh, Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Pengalihan alokasi subsidi bahan bakar minyak (BBM) oleh pemerintah yang sebagian diperuntukkan bagi sektor pendidikan dan kesehatan mungkin bisa menjadi penghibur meski pada dasarnya, pendanaan sektor pendidikan seharusnya tidak mempersyaratkan naiknya harga BBM. Dari dana kompensasi bidang pendidikan direncanakan terdistribusi dalam bentuk beasiswa. Sekitar 9,6 juta anak kurang mampu usia sekolah menjadi sasaran dari program alokasi ini. Pada tahun 2003, setidaknya 1 dari 4 penduduk Indonesia termasuk miskin. Jika total penduduk Indonesia adalah sekitar 220 juta jiwa, maka berarti ada sekitar 60 juta jiwa saudara kita yang dalam kategori miskin. Artinya, apa yang sekarang sedang direncanakan pemerintah sangat mungkin belum dapat menjangkau semua rakyat miskin. Memang dibutuhkan cukup waktu untuk sampai ke situ. Yang jelas awal menuju ke arah itu telah dimulai. Dalam konteks ini sebaiknya dibuat suatu kriteria siapa-siapa saja yang urgen untuk mendapatkan bantuan, dan siapa saja yang bisa menunggu giliran berikutnya. Kriteria itu penting agar keputusan seleksi tidak sampai menimbulkan gejolak di masyarakat paling bawah. Oleh karena itu, proses seleksi seharusnya benar-benar dilakukan terbuka yang didasarkan oleh data lapangan yang seakurat mungkin. Terlebih, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap praktik distribusi anggaran yang dilakukan pemerintah sering berada di titik rendah.
Pemerataan pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang pembangunan Negara. Pemerataan pendidikan ini belum dilakukan secara merata terutama di kalangan masyarakat miskin. Pendidikan di Indonesia yang relatif mahal dan mayoritas penduduk Indonesia yang hidup dalam kemiskinan membuat pendidikan itu tidak merata dikalangan masyarakat miskin. Pemerintah telah melakukan upaya-upaya untuk menanggulangi ketidakmerataan pendidikan ini dengan cara Wajib Belajar Sembilan Tahun, pemberian beasiswa-beasiswa bagi masyarakat yang kurang mampu atau miskin, kemudian memberikan Bantuan Dana Operasional (BOS). Walaupun sudah diadakan sekolah gratis, Bantuan Dana Operasional (BOS), ataupun alokasi dana BBM, namun bantuan yang diberikan belum merata. Masih banyak masyarakat miskin yang tidak mendapatkan apa  yang meharusnya mereka dapatkan, padahal seluruh rakyat berhak mendapatkan pendidikan yang layak.


Tanggal 20 Mei, kita di Indonesia memperingati hari kebangkitan Nasional. Dan apa kawan sedusun sudah tahu, apa yang diperingati di hari Kebangkitan  Nasional ini?
Cuma sekedar mengingatkan, Hari Kebangkitan Nasional di peringati untuk mengenang saat-saat bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan Nasionalisme serta kesadaran memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang sebelumnya tidak muncul (sulit) di masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Kebangkitan Nasional ini di awali dengan dua persitiwa bersejarah, yaitu berdirnya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan Sumpah Pemuda (28 ktober 1928).
Adapun tokoh-tokoh yang mempelopori kebangkitan Nasional itu antara lain :
  1. Sutomo
  2. Ir. Soekarno
  3. Dr. Tjipto Mangunkusomo
  4. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (sejak tahun 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara)
  5. Dr. Douwes Dekker
  6. DLL
Pada tahun 1912, partai politik pertama berdiri, yaitu partai "Indesche Partij". Pada tahun 1912 ini juga Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam (Solo), KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah (Yogyakarta), dan Dwijo Sewoyo dan kawan-kawan mendirikan Asuransi Jia Bersama "Boemi Poetra" (Magelang).
Kebangkitan pergerakan Nasional Indonesia bukan berawal dari berdirinya Boedi Oetomo, melainkan mulai dari berdirinya Sarekat Dagang Islam tahn 1905 di pasar Laweyan (Solo).Sarekat ini didirikan dengan tujuan menyaingi dominasi pedagang Cina saat itu. Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan, dan pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang tergabung dalam Komite Boemi Poetera, menulis "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya aku orang Belanda), pada tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana pemerintah Hindia Belanda (Sebelum menjadi Indonesia)  merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Hindia Belanda.
Dan karena tulisan inilah dr. Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi Soerjaningrat dihukum dan diasingkan ke Banda dan Bangka, tapi karena "boleh memilih", keduanya dibuang ke Negeri Belanda. Di sana Soewardi justru belajar ilmu pendidikan dan Dr. Tjipto karena sakit dipulangkan ke Hindia Belanda.
Dan pada perkembangan selanjutnya, tanggal berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei ditetapkan dan diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Persatuan dan kesatuan bangsa indonesia, tetapi kenapa di negara ini masih saja belum bisa peduli dan mau peduli dengan kesatuan bangsa indonesia demi mewujudkan rasa harmonis dan kerukunan untuk bisa sejahtera dalam bangsa ini. entah sampai kapan semua akan berakhir dengan rasa hormat sehingga membuat rakyat indonesia makmur dan sejahtera dalam meraih prestasi yang sudah di nanti oleh ribuan masyarakat.
Namun sampai saat ini masih belum bisa menujukan hasil yang positif, berbagai kasus selalu beredar di mana-mana dan tak lain adalah Bonex julukan dari Persebaya Surabaya. selalu di nilai negatif selalu dilihat sebagai suporter perusuh padahal jika di bandingkan dengan yang lain semua memiliki nilai yang negatif, tetapi kenapa para suporter hanya bisa mengadu mulut di luar dan lapangan saja, alangkah indahnya jika kita semua melihat semua bersatu. demi membela nama besar bangsa Tanah Air ini.
Coba saja melihat di tempat-tempat konser, semua saling membawa bendera masing-masih dari daerah-daerah plosok yang rela datang hanya untuk menonton sang superstar berlaga di atas panggung, tetapi mereka bisa bersatu dalam menjunjung musik indonesia untuk di akui sama negara-negara lain, bukan seperti sepak bola hanya bertengkar satu sama lain, sama-sama merugikan orang lain tidak bisa hidup dalam satu tempat untuk bisa melihat bendera merah putih berkibar di kanca Asia atau pun Dunia.
bukan cara seperti ini kita harus berbuat, kedewasaan kalian lah yang bisa menunjuk kan bahwa indonesia pantas berkanca di Asia, buka salinh bermusuhan walau dari dahulu suporter Arema, Persela, Persija, Persib. Persebaya saling bermusuhan namun kita boleh saling aduh skil di lapangan dan jangan di bawah di luar lapangan, wajah-wajah suporter yang sangat tulus untuk datang demi membela klub kesayangan mereka harus jadi korban atas ketidak dewasa-nya nurani kalian.
Mari sama-sama menjunjung rasa solidaritas demi melihat para pemain-pemain Timnas Indonesia berkanca di Asia atau pun Dunia, saatnya berbenah diri di mulai dari diri kita masih-masing dan jangan sampai ada lagi korban-korban ulah suporter yang masih belum bisa menerima apa adanya, mereka masih punya harapan masih punya cita-cita di negeri ini, jangan sia-sia kan bakat mereka dengan ulah Suporter yang masih belum bisa menerima kedewasaan ini.
Junjung tinggi perstasi bukan saling aduh pukul atau mengolok-ngolok satu sama lain tunjukan loyalitas kita demi bangsa dan tanah air kita, dan semoga para bapak-bapak pengurus PSSI yang sampai saat ini belum bisa menunjukan prestasi, kita beri doa buat para pengurus PSSI agar sadar betul dengan apa yang sudah beliau lakukan selama ini, mohon partisipasinya untuk bisa berfikir secara dewasa mulai lah berbenah wahai bapak-bapak PSSI agar rakyat Indonesia bisa melihat prestasi bukan langganan juara dua saja. 

Gelar bukan jaminan untuk masa depan lebih baik. Entah siapa yang akan mereka lakukan setelah sudah mendapatkan sebuah Gelar sarjana, masih banyak para sarjana pengangguran di negeri ini. Dari tahun ke tahun para pengangguran semakin bertambah, sangat ironis apa bila seorang yang sudah menyandang nama Sarjana tapi masih belum bisa mendapatkan tempat yang layak semestinya, sehingga akan bertambah jumlah orang-orang yang benar-benar murni memiliki skill dan ke ahlian dalam bidang jurusan-Nya.
Apalagi saat ini lapangan pekerjaan sudah ada di mana-mana namun masih saja dipersulit, apakah nama sarjana di negeri ini masih di pandang sebelah mata oleh para pemerintah. Tidak melihat dari skill saja namun nama yang di sandang sudah memenuhi kereteri, masih saja di persulitkan tidak ada jalan mudah untuk mengapai apa yang sudah diharapkan oleh semua orang, berapa persen di negara ini seorang sarjana masih saja pengangguran belum mendapatkan pekerjaan yang di inginkan.
Walau sudah menyelesaikan berbagai kurikulum selama kurang lebih 4 tahun untuk bisa mengapai sebuah gelar S dengan berbagai embel-embel lain-Nya, padahal jika di lihat lebih luasnya banyak orang yang bukan sarjana memiliki kemampuan luar biasa namun sayang mata pemerintah di negeri ini masih memandang sebelah mata.
Tanpa melihat dengan kedua bola mata, beribu-ribu orang mau melanjutkan perguruan tinggi agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bisa menjamin kehidupannya kelak, tetapi dari pengalaman dan lingkungan sehari-hari masih belum ada yang merasakan kalau seorang sarjana dan mempunyai gelar bisa hidup lebih baik.
Akan kah semua ini akan berlanjut pada masa yang akan datang pada masa-masa berikutnya. sampai kapan negara ini melihat seorang Sarjana pengangguran tidak mendapatkan tempat yang semestinya, tempat yang selama duduk di bangku kuliah di idam-idamkan dan harus rela berkorban apa pun sampai bisa mendapatkan sebuah gelar, di mana lapangan kerja yang benar-benar menjanjikan untuk bisa hidup lebih baik dan mapan pada anak, cucunya kelak.
Meski sudah layak untuk di sandar kan pada orang-orang yang benar-benar sudah memiliki gelar dan berbagai gelar namun masih saja, belum bisa menjanjikan kehidupan yang baik. masih luntang lantung
M Sjafei (dalam AA.Navis, 1996) memberikan contoh betapa penting dan berartinya pendidikan terhadap keunggulan suatu bangsa. Misalnya, bangsa Sparta pada 1000 tahun SM. Pada masa itu, bangsa-bangsa yang mendiami Balkan hidup terpencar dalam kota-kota kecil yang terpisah oleh gunung dan pulau-pulau. Mereka senantiasa dilanda perang saudara. Oleh karena itu, bangsa Sparta di bawah pimpinan Lycurgus, seorang pendidik, membangun kekuatan dengan system pendidikan militer yang keras sejak berusia 10 tahun. Akhirnya, Sparta disegani bangsa-bangsa di sekitarnya. 
Contoh di atas bisa menjadi salah satu strategi pendidikan bangsa di masa sekarang dan mendatang. Kalau dicermati bersama bahwa pendidikan kita masih bermuara pada pendidikan kolonial, dimana pendidikan hanya terbatas pada pencetak “budak/pekerja” dan melanggengkan adanya kelas/ strata sosial. Bahkan tidak sebatas hanya pendidikan, paradigma pembelajaran masyarakat kita juga masih menganut paradigma kolonial. 
Hal tersebut didasarkan pada sejarah pendidikan kita yang tidak lepas dengan politik etis/ politik balas budi oleh Kerajaan Belanda. Kerajaan Belanda memberikan kebijakan balas budi terhadap bangsa jajahannya yang telah membantu menghidupkan perekonomian kerajaan menjadi baik. Salah satu kebijakan tersebut adalah pendidikan. 
Sistem pendidikan di jaman kolonial adalah sistem pendidikan yang membedakan antara kelompok priyayi dan rakyat jelata. Pendidikan ini lebih menekankan pada mereka kaum priyayi dan yang punya uang. Tujuan pendidikan ini lebih menekankan pada terbentuknya para pegawai untuk kepentingan bangsa Belanda. Dan hal ini ternyata berlanjut hingga jaman kemerdekaan, entah sadar atau tidak, telah terbentuk watak masyarakat kita yang menekankan meraih pendidikan hingga tinggi hanyalah untuk menjadi pegawai. 
Masyarakat menganggap pendidikan seseorang akan berhasil bila mereka menjadi pegawai/karyawan negeri maupun swasta. Bagi mereka yang lulus hanya sebatas menjadi wiraswasta atau bekerja di lingkungan rumah dianggap pendidikannya tidak berhasil. 
Keunggulan Pendidikan Kita  
Sudah saatnya pendidikan harus di ubah paradigmanya demi keunggulan bangsa kita. Pada era 70-an kita pernah memberikan bantuan guru ke Negara Malaysia. Tetapi sekarang sebaliknya, masyarakat kita banyak yang belajar ke negara jiran tersebut. Lalu, apa sesunguhnya yang mampu kita ungulkan dari bangsa kita? Sebenarnya, jika kita sadar akan potensi kekayaan yang ada, tentunya kita sudah menjadi negara yang maju dan unggul, tigak menjadi bangsa yang hanya mampu mengirim “babu” ke negara lain. Sayangnya, hingga sekarang bangsa kita ternyata bukanlah termasuk bangsa yang ‘sadar’ dan peduli pada potensi kekayaannya sendiri. 
Kita memiliki makanan khas tempe, ternyata sudah di patenkan oleh Jepang. Kita memliki banyak pulau tetapi banyak yang diambil alih oleh negara tetangga. Kita memliki banyak professor dan doktor tetapi banyak bekerja luar negeri karena di negara sendiri tidak di hargai. Negara kita justru lebih dikenal karena banyaknya bencana, korupsi dan TKI yang terbelakang pendidikannya. Jiwa nasionalisme bangsa kita sudah luntur, ini semua tidak lain merupakan salah satu hasil pendidikan kita yang belum berorientasi pada kepentingan negara dan bangsa. 
Di sisi lain, pendidikan khususnya sekolah kita yang mati-matian membanggakan diri para prestasi peringkat sekian UN. Sekolah mengunggulkan Olimpiade (Matematika, fisika dll). Padahal , paradigma olimpiade adalah keunggulan dan liberalisme. Yang kuat menang. Berapa anak yang bisa mencapai itu? Apa efeknya pada pendidikan kita secara keseluruhan? Kita terpaksa menerima ini, dalam rangka meraih harga diri sebagai bangsa (Haidar Bagir dalam Teacher Guide V.01 edisi.02.07). 
Strategi Pendidikan Kita 
Berawal dari keadaan dan masalah yang bangsa kita hadapi saat ini, perlu kiranya memperbaruhi strategi pendidikan yang telah terlaksana. Hal ini bisa kita dasarkan pada potensi yang bangsa kita miliki. Pertama, bangsa dan negara kita terdiri banyak pulau dan lautan yang luas yang memerlukan pengawasan tinggi. Disini kita memerlukan dibangunnya kembali sekolah-sekolah militer untuk memperbanyak dan menambah pengetahuan tentara kita yang menjaga khususnya pulau-pulau terluar agar tidak mudah i di ambil alih negara tetangga dan tidak diremehkan oleh negara lain karena kita memiliki system pertahanan yang kuat. 
Kedua, bangsa dan negara kita hampir 75% menyandarkan kehidupannya pada pertanian. Namun, jika mau jujur berapa masyarakat yang tertarik pada sekolah pertanian dan berapa sekolah pertanian berdiri. Pada tahun 1980-an kita bisa swasembada beras tetapi sekarang justru kita mengimport dari negeri Vietnam. Kedelai kita mengimprot dari Amerika yang terkenal dengan teknologi dan pertahanan. Sapi kita import dari Australia, buah-buahan kita import dari Thailand. Hampir-hampir masyarakat kita bangga kalau membeli buah-buahan dari luar negeri, duren Thailand, jambu Bangkok, dll. Dengan dasar ini diperlukan bertumbuhnya sekolah-sekolah pertanian dan sebuah upaya keras untuk mengkampanyekan agar generasi muda bangga bersekolah di pertanian. 
Ketiga, bangsa dan negara kita terdiri lautan, banyak hasil laut langsung di jual mentah, tetapi untuk pengolahan masih kurang. Contoh Jepang, walaupun lautannya kecil bisa mengemas hasil lautan dengan baik dan hasilnya bisa di ekspor. Dengan dasar ini maka diperlukan memperbanyak sekolah perikanan dan kelautan. 
Keempat, bangsa dan negara kita kaya atas kesenian dan hasil ketrampilan dari bermacam-macam tari, lagu dan kesenian daerah. Di samping itu ketrampilan batik, tenun dan ketrampilan ukir kayu serta batu. Dimungkinkan dengan dasar ini pendidikan kita menekankan pelestarian dan mengadakan inovasi terhadap kesenian dan keterampilan kita. 
Jika keempat strategi ini bisa berjalan dengan baik bukan tidak mungkin bangsa dan negara akan menjadi lebih unggul. Negara kita jangan mudah terjebak pada pesona globalisasi yang menekankan tegnologi modern tetapi kenyataanya kita belum mampu dan hanya berperan sebagai perekat/ ‘pemandu sorak’ semata. Kalau pertahanan, hasil pertanian/kelautan dan kesenian/keterampilan diolah dengan baik bukan tidak mungkin karakter dan keunggulan bangsa kita bisa di akui oleh negara lain

Valentine Menurut Islam - Waktu terus bergulir tak terasa kini kita sudah berada di tahun 2012. Tahun yang katanya akan terjadi kiamat ramalan 2012 tersebut diprediksi oleh suku maya. Benar atau tidaknya ramalan tersebut hanya Allah yang tahu, karena dia yang menciptakan bumi ini beserta seluruh isinya.
Nah diawal tahun tepatnya dibulan kedua masehi : Ferbruari ada sebuah tanggal yang katanya hari kasih sayang atau hari valentine. Hari dimana sebagian manusia bumi ini merayakannya dengan suka cita. Namun tahukan anda sejarah valentine dan pandangan valentine menurut islam?
Dibawah ini ada kutipan yang membahas mengenai hari valentine menurut islam atau sudut pandang islam tentang valentine days
Ahli Fengshui Indonesia, Ir Sidhi Wiguna Teh MT, mengungkapkan, berdasarkan hasil hitungannya, pada 2011 ini masih akan banyak terjadi kekisruhan di Indonesia. Bintang yang berkuasa di tahun 2011 ini adalah angka 7 yang melambangkan mulut. Artinya, akan banyak terjadi mis-information dan mengarah pada terjadinya konflik. Seperti apa?Tatapan wajahnya serius ketika koran ini mewawancarainya secara eksklusif di Hotel Graha Sriwijaya, sesaat sebelum tahun baru 2011 tiba. Meski begitu, Sidhi--sapaan akrab Ir Sidhi Wiguna Teh MT--yang mengenakan jas dengan kemeja putih di dalamnya terkesan santai.     
    Satu persatu kalimat yang ia keluarkan mengalir terus menerus tanpa ada beban untuk mengungkapkannya. Salah satu yang menarik dalam pembahasan tersebut adalah soal apa yang akan terjadi di 2011.
    Pria kelahiran Medan, 12 Maret 1965 lalu ini mengungkapkan, berbagai bencana yang terjadi di 2010 lalu, tidak akan menjadi masalah yang serius di 2011 ini. Dari teori bintang tahunan, pada 2010 lalu berbintang 8 dengan unsur tanah, sehingga bencana yang terjadi bersifat tanah seperti gempa bumi, longsor, meletusnya Merapi, dan Bromo, dan sebagainya.
    ”Nah, di 2011 ini, arahnya tidak ke sana (bencana, red), meski akan ada beberapa letusan gunung sekitar satu atau dua. Namun, tidak akan sedahsyat 2010 lalu,” ujar Sidhi kepada Sumatera Ekspres. Ia mengungkapkan, masalah yang justru perlu diwaspadai adalah soal gosip dan informasi yang disalahgunakan.
    ”Wikileaks ini sudah muncul di 2010 dan puncaknya akan terjadi di 2011 ini,” kata suami dari Mawar yang telah dikaruniai empat anak yang kesemuanya adalah putra. Menurutnya, angka yang berkuasa di 2011 ini adalah angka 7 yang melambangkan mulut. ”Dan mulut ini terkait soal informasi,” cetusnya.
    Lanjut Sidhi, bila informasi yang diberikan secara benar, maka hasilnya akan positif. Nah, bila informasi yang diberikan tidak benar, maka hasilnya akan negatif. ”Belum bisa terbayang hasilnya seperti apa nantinya bila informasi yang diberikan tidak benar. Dan potensi dominonya ke arah yang sifatnya lebih ke konflik,” bebernya.
    Masalah konflik tersebut, juga terkait soal politik yang juga perlu mendapat perhatian serius dan harus diwaspadai. ”Masalah konflik politik 2011, akan meningkat dari tahun 2010 lalu,”
ungkap Sidhi lagi.
    Bahkan, dirinya meyakini, akan ada permasalahan yang lebih dahsyat daripada terbongkarnya video porno mirip Ariel bersama mirip Cut Tari dan Luna Maya. ”Yang pastinya, semua masalah berasal dari public figure dan pejabat penting yang ada di Indonesia. Itu dari yang saya lihat,” cetusnya.
    Ia mengaku, apa yang disampaikan tersebut bukan secara supranatural, melainkan secara hitung-hitungan. ”Semuanya ada rumusan, bukan hanya asal bicara. Kalau dijelaskan bagaimana cara penghitungannya, sangat njelimet karena satu semester saja nggak habis, bahkan diktatnya bisa sampai lima sentimeter tebalnya,” kata Sidhi lagi sambil tersenyum.
    Namun, dari semua penghitungan yang dilakukan tersebut, inti dasar teori yang digunakan adalah yin dan yang. Nah, apa yang disampaikan merupakan lo shu yang basic tengahnya ada lima, yang kemudian dijabarkan dalam bentuk angka dan terkait dengan lima arah mata angin yang tiap arahnya memiliki unsur.
    Misalnya arah utara unsurnya air dan selatan unsurnya api. ”Nah, itu teori Fengshui. Kalau dijabarkan makin detail dan pecahnya bisa sampai ke arah 120 naga (arah mata angin, red). Sedangkan arah mata angin kita 360 derajat yang dipecah menjadi 120 naga. Jadi, masing-masing arah hanya 3 derajat. Sedangkan kita hanya ada 8 arah mata angin di kompas,” bebernya.
    Ia juga menambahkan, ada beberapa hal yang membedakan antara Fengshui dan shio. Yakni, untuk menghitung Fengshui melihat dari batang langit dan cabang buminya. Tahun 2010 lalu adalah tahun macan dengan batang langitnya logam positif atau keras, sedangkan cabang buminya kayu positif. ”Nah, positif logam bertemu dengan positif kayu, klesnya tinggi atau keras,” ungkapnya.
    Sementara di 2011, batang langitnya adalah sin atau logam negatif dengan sifat lembut. Sedangkan batang buminya kelinci atau kayu lembut. ”Kalau ini, konfliknya jauh lebih kecil dibanding 2010 lalu,” bebernya.
    Sementara dalam perayaan malam tahun baru di Hotel Graha Sriwijaya, juga dimeriahkan oleh artis lokal Palembang dan arti dari Medan, yakni Miss Miao Ling. Para artis tersebut membawakan beberapa lagu Chinese, pop Indonesia, dan lagu dangdut yang sedang in di dunia musik Indonesia, seperti Keong Racun dan sebagainya.
    Pengunjung yang datang mayoritas etnis Tionghoa. Bukan hanya dewasa, namun beberapa anak turut mengikuti acara tersebut. Makanan yang disajikan pun tidak monoton, karena ada beberapa menu yang disajikan selang beberapa menit pada tiap meja.
    Diperkirakan, jumlah pengunjung yang datang mencapai ribuan orang. Karena semua meja dengan 10 kursi per meja penuh semua. Dalam pelaksanaan tersebut, juga disiapkan beberapa door prize yang memang diincar pengunjung yang datang. Di antaranya adalah sepeda motor, TV LCD 32 Inch, laptop, AC, Hp, kulkas, mesin cuci, dispenser, dan 10 member SSC 6 bulan.
    Semakin meriah, ketika mendekati menit-menit jelang pergantian 2011. Para pegawai membagikan terompet pada beberapa pengunjung di tempat duduk masing-masing. Tiupan dari terompet semakin keras tatkala detik-detik menjelang pergantian tahun semakin dekat.
    Tepat pukul 00.00 WIB yang menandakan pergantian tahun 2011, seluruh pengunjung terlihat berpelukan dengan rekan-rekannya. Sekitar 15 menit, mereka merayakannya sembari meniupkan terompet.