Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Beberapa orang pandu dan pemuda Republikein, masing-masing membawa obor, bersiap membakar tumpukan kayu untuk membuat api unggun. Para pemuda lainnya duduk mengelilingi hangatnya tabunan. Malam itu adalah perhelatan peringatan yang ketiga berdirinya Republik Indonesia, yang digelar di halaman rumah Bung Karno.

Setahun sebelumnya, mereka baru terlepas dari dera aksi polisionil lantaran perbedaan penafsiran Belanda dan Republik Indonesia terhadap isi Perundingan Linggarjati.

Meski proklamasi kemerdekaan telah dikumandangkan sejak 1945 dan berita lahirnya Republik Indonesia telah menyeruak ke seantero dunia, kedaulatan tampaknya belum sepenuhnya ada di tangan para bangsa ini. Pada kenyataannya, Belanda masih sangat berhasrat untuk mengambil permatanya yang hilang ini.

Pada 16 Agustus 1948 itu, polisi Belanda melepaskan serentetan tembakan yang menyebabkan korban di pihak pemuda. Malam itu terjadi huru-hara. Bentrokan pemuda dan polisi menyebabkan beberapa pemuda lain terluka. Namun, Soeprapto Dwidjosewojo, seorang pandu, tertembak dan nyawanya tak dapat diselamatkan.

Polisi Belanda berhasil menduduki rumah Bung Karno yang sejak 1 Juli 1948 resmi dijadikan Gedung Pemerintah Republik Indonesia. Mereka merampas dokumen-dokumen Pemerintah RI. Kejadian ini menyebabkan terjadinya ketegangan politik kembali lantaran Pemerintah RI merasa dilanggar kekebalan diplomatiknya.

Sebuah foto menunjukkan jenazah pandu Soeprapto terbujur kaku di ranjang rumah sakit yang berseprai putih. Mata dan mulutnya tertutup kapas. Pundak kirinya terbungkus perban. Seorang perawat tampak sedang membuka selimut putih untuk memberi kesempatan fotografer mengabadikan sosok terakhir sang pandu. Mungkin Mendur bersaudara yang memotretnya.

Esok paginya, tepat di hari perayaan ulang tahun Republik, Roemah Sakit Pergoeroean Tinggi Salemba diduduki oleh polisi Belanda. Puluhan dokter dan ratusan perawat meninggalkan pekerjaannya. Mereka menyerukan ketidaksenangan terhadap kejadian ini. "Sekali Republikein, tetap Republikein!"  

Seminggu setelah bentrokan, ayah pandu Soeprapto yang bernama Mr Dwidjosewojo mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pegawai suatu institusi peninggalan Hindia Belanda. Peristiwa tersebut juga menuai simpati tak hanya dari kalangan Republik, tetapi juga warga Belanda. Seorang kolega Mr Dwidjosewojo yang juga pejabat Belanda, Dr Verdoorn, turut meletakkan jabatannya dan mengundurkan diri dari pekerjaan.

Akhirnya,datanglah suatu masa dimana Nabi saw mengetahui bahwa dakwah Islam di Mekkah telah mengalami penekanan yang luar biasa sehingga keadaan sangat tidak mendukung bagi kaum muslim. Rasulullah saw bergerak dengan dakwahnya. Lalu Allah SWT mewahyukan kepadanya agar dia berhijrah. Kemudian mulailah Nabi berhijrah di jalan Allah SWT setelah tiga belas tahun beliau di Mekkah. Islam ingin membangun negaranya dan ingin menghilangkan pengepungan dan serangan kaum musyrik. Mula – mula terjadilah perubahan sedikit pada keadaan kaum muslim.

Rasulullah saw keluar dalam musim haji untuk menunjukkan dirinya pada kabilah-kabilah Arab sebagaimana yang beliau lakukan pada setiap muslim. Beliau berada di tempat yang bernama ‘Aqabah, lalu beliau bertemu dengan jamaah dari Khazraj. Rasulullah saw berkata kepada mereka, “siapa kalian?” mereka menjawab: “kami berasal dari kelompok Khazraj.” Beliau berkata,”apakah kalian termasuk pembantu kaum Yahudi?” mereka menjawab:”benar.”Beliau berkata,”maukah kalian duduk bersama aku karena aku ingin sedikit berbicara degan kalian.”mereka menjawab:”boleh.” Kemudian mereka duduk bersama Nabi lalu beliau mengajak mereka untuk mengikuti agama Allah SWT.

Rasulullah saw sedikit menceritakan Islam kepada mereka dan membacakan Al-Qur’an. Enam orang mendengar apa yang di sampaikan oleh Nabi saw. Setelah beliau selesai dari pembicaraannya, mereka membenarkannya dan beriman kepadanya. Kemudian mereka menceritakan kepada Nabi saw bahwa mereka meninggalkan kaumnya karena kaum mereka terlibat peperangan dan kebencian. Mudah-mudahan Allah SWT mengumpulkan mereka dengan kedatangan Nabi saw yang mulia ini. Mereka memberitahu Nabi saw bahwa mereka akan menceritakan kepada kaumnya apa yang mereka dengar dari Nabi saw dan akan mengajak mereka untuk memenuhi dakwah Nabi saw.

Keenam lelaki tu kembali ke kota Madinah yang berubah namanya menjadi Madinah Munawarah yang sebelumnya ia bernama Yatsrib di zaman jahiliah. Allah SWT berkehendak untuk meneranginya dengan Islam. Para lelaki itu kembali ke Madinah dan mereka membawa Islam di hati mereka sehingga banyak orang yang masuk Islam.

Kemudian datanglah musim haji dan keluarlah dari Madinah dua belas orang lelaki dari orang-orang yang beriman yang diantara mereka terdapat enam orang yang Rasulullah saw telah berdakwah kepada mereka pada musim yang dulu dan Nabi saw menemui mereka di ‘Aqabah. Kemudian Nabi saw melakukan baiat pada mereka agar mereka mempertahankan keimanan dan membela dakwah kebenaran serta kemanusiaan.

Kaum lelaki itu kembali ke Madinah disertai salah seorang yang terpercaya dari tokoh Islam yaitu Mus’ab bin Umair dimana dia menjadi utusan Rasulullah saw di Madinah dan dia mengajari manusia tentang agama mereka dan membacakan kepada mereka Al-Qur’an dan menyerukan kebenaran kepada manusia sehingga tersebarlah Islam di Madinah. Penduduk Madinah mulai bertanya-tanya, mengapa saudara-saudara kita kaum Muslim Mekkah ditindas? Mengapa Rasulullah saw keluar untuk berdakwah dan menebarkan rahmat tetapi beliau justru mendapatkan angin kebencian? Sampai kapan kita akan membiarkan Rasulullah saw teraniaya dan terusir di Mekkah?

Demikianlah, pergilah tujuh puluh orang ke Mekkah, tujuh puluh orang dari penduduk Madinah Munawarah. Mereka pergi ke ‘Aqabah dalam keadaan sendirian dan berkelompok-kelompok. Islam telah menghasilkan buah pertamanya dalam hati mereka sehingga hati mereka di penuhi cinta kepada Allah SWT dan RasulNya serta kaum muslim. Penderitaaan yang dialami kaum muslim mempengaruhi jiwa mereka dan mencegah mereka dari kenikmatan tidur dan nikmatnya memakan dan nikmatnya kehidupan. Orang-orang yang baik itu datang dan berbaiat kepada Rasulullah saw untuk membela beliau menolongnya dan melindunginya serta siap untuk mati di jalannya. Mereka datang setelah hati mereka diliputi oleh Islam dan mereka meberikan segala sesuatu untuk dakwah yang baru; mereka datang sebagai pecinta-pecinta kebenaran.

Kitab-kitab hadis yang suci meriwayatkan apa yang terjadi pada baiat ‘Aqabah al-kubra. Dalam kitab tersebut dikatakan bahwa Abbas Ibnu Abdul Muthalib datang bersama Nabi dan saat itu dia masih berada dalam agamanya kaumnya. Dia ingin menyelesaikan urusan anak pamannya. Ketika dia duduk dan berbicara, dia mengatakan suatu pertanyaan yang mengisyaratkan bahwa Muhammad saw mendapatkan kemuliaan dari kaumnya dan kekuatan di negrinya tetapi dia enggan dan memilih untuk bergabung bersama kalian wahai penduduk Madinah. Jika kalian memenuhi janjinya dan melindunginya maka ambillah dia, namun jika kalian khawatir jika suatu saat nanti akan mengkhianatinya maka mulai dari sekarang biarkanlah dia di negerinya.

Kata-kata Abbas tersebut berasal dari fanatisme kesukuan dan ikatan darah keluarga namun penduduk Madinah tidak begitu peduli dengan kalimat Abbas itu karena dia bukan termasuk dari agama mereka dan dia tidak mengetahui tingkat cinta kepada Rasulullah saw yang mereka capai. Abbas bin Abdul Muthalib menunggu jawaban dari penduduk Madinah. Lalu mereka berkata kepadanya, “kami telah mendengar apa yang engkau katakan maka berbicaralah ya Rasulullah, ambilah untuk dirimu dan Tuhanmu apa saja yang engkau sukai.”

Kita ingin mengamati jawaban sekelompok orang yang mungkin dari penduduk Madinah ini sehingga Rasulullah saw berbicara. Jawaban yang di cari oleh Abbas bin Abu Muthalib tersembunyi dalam pernyataan Nabi. Demikianlah setelah Rasulullah saw mengucapkan kalimatnya maka tidak keluar pernyataan apapun. Cukup hanya Nabi yang berbicara dan mereka hanya menantinya. Mereka meminta kepada beliau agar mengambil pada dirinya dan Tuhannya apa saja yang beliau sukai; mereka merasa tidak memilik apa-apa dan tidak memiliki keputusan. Nabi berbicara lalu beliau membaca Al-Qur’an dan mengajak kejalan Allah SWT. Kemudian beliau berbicara tentang Islam dan beliau membaiat mereka agar membantu beliau sehingga merekapun membaiat kepadanya. Demikianlah terjadinya baiat ‘Aqabah al-Kubra.

Orang-orang yang terpilih oleh Allah SWT itu mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan diajak untuk mengang kat senjata; mereka diajak untuk mendapatkan kematian di bawah pedang. Mereka menenangkan Rasulullah saw bahwa beliau akan mendapati orang-orang yang sudah terlatih dalam peperangan karena mereka mewarisi dari kakek-kakek mereka.

Salah seorang dari tujuh puluh orang itu menyebutkan masalah yang penting. Abul Haitsyam berkata: “ sesungguhnya diantara orang-orang Madinah dan Yahudi terdapat suatu tali ikatan maka mereka boleh jadi akan memutuskannya lalu, apakah sikap yang harus kita ambil jika mereka lakukan hal itu dan memusuhi orang Yahudi.” Kemudian Allah SWT menolong Nabi saw dan memenangkan atas kaumnya, lalu dia kembali kepada mereka dan meninggalkan mereka dibawah kasih sayang orang-orang Yahudi.

Perhatikanlah bahwa pernyataan tersebut berkisar pada kecintaan kepada Nabi dan keinginan agar Nabi tetap bersama mereka selama perjalanan hari dan bulan. Masalah yang di tuntut oleh Abbas bin Abdul Muthalib secara jelas adalah masalah perindungan mereka kepada Nabi, di mana hal tersebut  tidak lagi diperdebatkan oleh orang-orang yang tepilih dari penduduk Madinah. Namun masalah yang mereka inginkan adalah masalah perlindungan Nabi dan keberadaan Nabi bersama mereka di Madinah.

Nabi tersenyum dan beliau mengatakan kalimat-kalimat yang justu menekankan bahwa ikatan akidah lebih kuat dari pada ikatan darah. Beliau berkata: “tetapi darah adalah darah dan kehancuran adalah kehancuran. Aku dari kalian dan kalian dariku aku akan memerangi orang-orang yang kalian perangi dan aku akan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengan mereka.”

Akhirnya, penduduk Madinah pergi dan kembali ke negeri mereka. Kemudian berita tentang baiat ini sampai ketelinga orang-orang Mekah dan para tokoh musyrik, lalu mereka justru menambah penekanan kepada Rasulullah saw dan kaum muslim.

Para preman Mekah berkumpul di Darul Nadwah. Mereka menetapkan akan mengambil suatu keputusan penting berkaitan dengan Nabi. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar beliau di belenggu dengan besi lalu di buang ke penjara sehingga beliau mati kelaparan. Sebagian lagi mengusulkan agar beliau di buang dari Mekkah dan diusir. Abu Jahal mengusulkan agar mereka mengambil dari setiap keluarga dari keluarga-keluarga Quraisy seorang pemuda yang kuat, kemudian setiap dari mereka di beri pedang yang terhunus dan hendaklah mereka memukulkan pedang itu ke tubuh Nabi. Jika mereka berhasil membunuhnya niscaya semua kabilah bertanggung jawab darah sang Nabi dan Bani Hasyim tidak akan mampu menuntut dan memerangi orang Arab semuanya dan mereka akan menerima diat sebagai tebusan dari pembunuhan itu. Demikianlah persekongkolan itu di gelar dan mereka sepakat untuk melaksanakan hal itu. Namun Al-Qur’an al-Karim menyingkap persekongkolan yang dilakukan orang-orang kafir itu dalam firman-Nya:

“dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS. Al –Anfal:30)

Allah SWT mewahyukan kepada Nabi-Nya agar dia berhijrah. Lalu Nabi mulai menyiapkan sarana-sarana untuk hijrahnya. Beliau menyembunyikan urusan tersebut bahkan beliau tidak memberitahu sahabat yang akan menemaninya. Rasulullah saw menyewa seorang penunjuk jalan yang pengalaman yang mengenal padang gurun seperti mengenal garis-garis tangannya. Yang mengherankan penunjuk jalan itu adalah seorang musyrik. Demikianlah Nabi meminta bantuan kepada orang yang ahli tanpa memperhatikan keyakinannya.

Kemudian datanglah malam pelaksanaan kejahatan itu. Rasulullah saw memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya di malam tersebut. Datanglah pertengahan malam dan Rasulullah saw pun keluar dari rumahnya. Para pemuda Mekkah mengepung rumah. Mereka menghunuskan pedangnya. Nabi menggenggam tanah lalu beliau melemparnya ke arah kaum sehingga mereka pun merasa kantuk sehingga Nabi saw dapat menembus kepungan mereka. Beliau keluar dari Mekkah dan berhijrah.

Dengan langkah yang di berkati ini, kaum Muslim menanggali tahun-tahun mereka. Tahun dalam Islam adalah tahun Hijiriah, sedangkan kaum Masehi menanggali tahun mereka dengan kelahiran Isa dan ini di sebut dengan tahun Masehi. Adapun tahun-tahun Islam maka ia di tanggali pertama kalinya saat Rasulullah saw keluar berhijrah di jalan Allah SWT.


http://yc7lvx.wordpress.com/2008/12/29/sejarah-dimulainya-1-muharam-tahun-hijiriah/
 

Sosok Seorang Ayah yang Terlupakan - Coba sejenak kau lihat raut kelentihan dari wajah ayahmu, helai rambut yang memutih di kepalanya dan kau akan melihat betapa ayah, bapak atau papamu selalu menyayangimu dan menjagamu. Dan dibalik ketidaknyamananmu ada sebuah cinta yang selalu menjadi pelindungmu. Coba kau katakan sekali saja, " Aku sayang sama ayah, bapak, papa. " , kau akan melihat guratan senyum kebahagiaan dari raut bibirnya yang mungkin tidak pernah kau lihat sebelumnya. "
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..

Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa ?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu ?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian ?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu…
Kemudian Mama bilang : " Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya " , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka.

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.
Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi ?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.

Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: " Tidak boleh !". Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu ? Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu.
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya,
Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia. Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut. Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang ?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa."

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain.
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu ?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati.
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT…. kuat untuk pergi dan menjadi dewasa…

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan.

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : " Tidak…. Tidak bisa ! "
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan " Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu ".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat " Putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang "

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya….

Saat Papa melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seseorang lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia.
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis ?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata : " Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik…. Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik…. Bahagiakanlah ia bersama suaminya…"

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya.
Papa telah menyelesaikan tugasnya.

Papa, Ayah, Bapak kita… adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis…
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. . Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa " KAMU BISA " dalam segala hal..

Di Yogyakarta, segala macam daya cipta tampaknya bisa mewujud. Tidak saja kreasi dalam berbagai karya seni, melainkan juga model apresiasi dan kecintaan yang amat dalam terhadap agama. Sebuah paradoks spiritual, manakala para pengikut agama menyingkirkannya, mereka yang disingkirkan justru mendekati agamanya.
Begitulah kehidupan agama para waria di Yogyakarta. Mereka mendirikan Pondok Pesantren Waria AL-Fattah, sebagai wujud religiousitas yang terus tumbuh dan berkembang dalam dada mereka. Para waria merasakan, betapa kehadiran mereka di dunia ini hanya dipandang sebelah mata, bahkan seringkali dihina-hina, dikuyo-kuyo, seakan-akan Tuhan salah mencipta.
Di media kehadiran mereka hanyalah menjadi bahan tertawaan, banyolan tidak bermutu. Kita tentu selalu ingat, nama Tesi, yang selalu menjadi ‘bolo dupakan’ dalam setiap pementasan Srimulat. Peran yang hanya menjadi jalan bagi pemain lain untuk membuat para penonton tertawa terpikal-pikal, perut kaku hingga mules. Sebuah acara reality show di sebuah televisi swasta, juga dirancang sebagai bahan guyonan, meski yang tampil memang para waria itu sendiri. Tetapi program ini jauh menyakitkan, karena mengambarkan sebuah proses pengembalian waria menjadi laki-laki sejati, yang berarti sedang menegasikan entitas waria memang merupakan ciptaan Ilahi.
Dari saudara seagama, mereka juga mendapatkan penolakan kehadirannya. Kita masih ingat, bagaimana para waria lari tunggang langgang ketika sedang mengikuti sebuah Pelatihan Hak Asasi Manusia [HAM] di depok beberapa bulan lalu. Tidak perduli, walaupun waria datang diundang oleh lembaga terhormat, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia [KOMNAS HAM].
Meski begitu, mereka tetap teguh memeluk agamanya. Pesantren menjadi pilihan untuk menjadi tempat mereka mendekatkan diri kepada sang Pencipta, yang telah mentakdirkan mereka berwadag laki-laki, tetapi dalam diri mereka terpenjara jiwa perempuan. Dan mereka yang berwadag perempuan, tetapi dalam tubuh itu terperangkap jiwa laki-laki. Hanya saja, untuk penciptaan yang kedua, memang tidak terlalu menampak dalam kehidupan keseharian.
Para waria tampaknya tetap merasa yakin, sang Pencipta tetap mencintai mereka, memberikan anugerah kepada mereka, dan tetap menjajikan surga bagi merak yang beramal baik dan mengancam dengan neraka bagi mereka yang beramal buruk. Seperti juga yang selalu dijanjikan dan diancamkan kepada semua pemeluk agamanya. Mereka tak perduli bagaimana kehadirannya disia-siakan oleh mereka yang seagama, bagaimana eksistensinya ditolak-tolak oleh saudara seiman mereka.
Di Pesantren Al-Fattah, mereka tetap berdoa, membaca Alqur’an, dan sembahyang berjama’ah. Mereka yang nyaman menggunakan sarung dan peci, silakan mengenakannya. Mereka yang nyaman menggunakan mukena tak juga harus dipersoalkan. Pada hari-hari yang telah disepakati, mereka mengaji, di bawah bimbingan ustadz Abdul Muiz Ghazali, seorang mahasiswa sekolah pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Maka seperti juga di Pesantren dan di masjid-masjid lainnya, suara takbir, tahmid, tahlil, selalu dikumandangkan. Proses taqorrub kepada sang Pencipta terus berjalan tiada henti. Lalu, ada bisikan yang menggelitik, “apa yang menjadikan kehadiran mereka ditolak?” “Mengapa kita berani berprasangka, Tuhan telah melakukan kesalahan dengan penciptaan-Nya, sehingga kehadiran waria seakan-akan tidak layak ada di dunia ini?” Sebuah pertanyaan yang begitu lembut, yang bisa hadir dalam setiap jiwa yang memiliki religiousitas, pertanyaan dalam setiap jiwa kita, yang sama-sama beragama.***


Pondok Pesantren Khusus Waria Senin-Kamis, begitulah yang tertulis pada plang sebuah bagunan yang tidak lain adalah sentral kegiatan beribadah komunitas waria. Secara geografis, Letaknya berada di sebelah timur tidak jauh dari Pusat perbelanjaan Malioboro. Tepatnya di Desa Notoyudan Gg II/1294, RT 85 RW 24 Gedongtengen Yogyakarta.
Dari pinggir jalan raya Letjend Suprapto, posisi bangunan itu terlihat seperti layaknya rumah biasa. Menghadap ke utara dengan arsitektur ala rumah pribadi. Tidak ada suatu ciri khas yang mengidentikkan bangunan tersebut sebuah Pondok Pesantren, dimana kegiatan keagamaan kaum waria berpusat disana. Terkecuali hanya sebatas plang bermaterikan gabus dengan kombinasi warna kuning-hijau-merah sebagai sebuah penanda.
Jalur Jalan berupa gang sempit dan posisi yang agak menurun sekitar 1,5 meter ke bawah membuat reporter Sinergia harus ekstra pelan dan hati-hati dalam mengendarai motor ke area lokasi Ponpes. Tidak sampai 10 meter dari mulut jalan raya, pas dibibir turunan jalan, posisi kami sudah persis di depan podok pesantren.
Melihat pintu rumah itu (pesantren, red.) terbuka, kamipun langsung mengetuk pintu. Hampir 3 menit menunggu dan 3 kali mengetuk pintu, terlihat gadis kecil kira-kira berumur 9 tahunan keluar dari dalam rumah seraya menyapa dengan lembut, “cari Ibu ya mas?”. Walau mulanya agak sedikit ragu dengan kata “ibu” tadi, akhirnya kami pun lantas menyahut “iya dek, ada?”, “bentar ya mas”.
Kemudian terdengar suara gadis kecil itu memanggil seseorang dengan sebutan Ibu. Selang 1 menit, sesosok bertubuh besar dan berpenampilan serba feminine pun keluar dari dalam. Itulah mungkin jawaban dari kata “ibu” tadi, yang tidak lain adalah Maryani. Pendiri sekaligus pengasuh Pondok pesantren khusus waria itupun menyapa dan mempersilahkan kami masuk.
Dengan santai kamipun memulai perbincangan. Sekeliling ruangan terlihat atribut-atribut islam seperti kaligrafi dan juga ada foto seorang laki-laki dengan kopyah putih kokoh bersurban serta disampingnya ada seorang perempuan yang menurut keterangan Maryani tidak lain adalah KH. Hamrulie Harun, M.Sc. beserta istriya.
Beliau adalah figur kyai idola kaum waria yang telah menginspirasi berdirinya pondok pesantren khusus waria senin-kamis. Lewat Pengajian mujahadah al-Fatahnya yang tidak mengenal perbedaan status sosial manusia, Maryani merasa nyaman berada dalam bimbingan spiritual sang kyai. “saya seorang waria yang mengikuti pengajian mujahadah al-fatah yang diadakan oleh pak haji hamroli yang memiliki tiga ribu jamaah lebih, dan ternyata yang waria saya sendiri, kok saya masih diterima”. Tutur Maryani.
Perasaan seperti itulah yang kemudian membuat Maryani tergugah untuk mengajak teman-teman sesama waria dan membuat suatu pengajian khusus untuk waria. Maka, diadakanlah pengajian khusus untuk waria itu pada setiap minggu pon yang juga diasuh oleh kyai Hamrulie. “Yang datang kadang-kadang satu atau dua orang.”
Dalam kesempatan lain, Sonya, salah satu pengurus Ponpes sekaligus Kordinator Divisi Pengorganisasian Komunitas Waria PKBI Yogyakarta yang pada saat itu juga memiliki peranan penting dalam hal advokasi berdirinya pesantren waria menangatakannya dengan sebutan Pondok Pengajian. “Tiap bulan sekali kita melaksanakan pengajian. Nah, pertama kita mengadakan pengajian itu bisa mencapai ratusan jama’ah”, tuturnya dengan nada dan gayanya yang khas. Angka tersebut mungkin berbeda jauh dengan yang dikatakan Maryani. Namun, terlepas dari persoalan angka-angka itu, hal ini jelas mengindikasikan bahwa pengajian sebelumya memang pernah ada.
“Pertama pengajian ini saya adakan di tempat tinggal saya di Surokarsan. Tetapi akhirnya ketika sudah berjalan ekonomi saya hancur total, dan harta saya habis. Dan saya memutuskan untuk kembali ke daerah,” lanjut Maryani. Fenomena tersebut kemudian membuat aktifitas pegajian sempat vakum beberapa saat.
Akan tetapi, tidak lama setelahnya, gempa jogja pada 27 Mei 2006 yang sampai saat ini masih menyisakan duka itu ternyata memberikan cerita lain bagi komunitas waria. Dibalik kisah duka itu, ada sisi cerita lain yang menjadi jembatan sejarah bagi berdirinya pondok pesantren khusus waria senen-kamis. “Dan saya berinisiatif untuk mengajak teman-teman waria dari kota Jakarta, Surabaya dan dari daerah-daerah lainnya untuk berdoa bersama, ternyata banyak yang datang.” Antusias dan solidaritas antar sesama waria pada waktu itu memberikan energi tersendiri bagi orang yang pada masa kecilnya bergama katholik ini. “Akhirnya saya berbicara kepada pak haji hamroli untuk membuka forum pesantren waria, saya mengadakan pengajian khusus waria.”
Tepatnya pada tanggal 8 juli 2008, dibawah dukungan dan advokasi dari PKBI (Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia) Yogyakarta Divisi pengorganisasian komunitas waria, Pondok pesantren khusus waria senin-kamis pun diresmikan. “PKBI disini mendorong dan memotivasi tokoh pesantren waria yaitu Bu Maryani untuk bangkit lagi, dan PKBI menginisiasi”, ucap Sonya mantap.
Disini agak terjadi kerancuan antara PKBI (sonya, red.) dan pihak ponpes sendiri ketika ditanya tentang siapa sebenarnya yang mempunyai inisiatif awal karena semuanya sempat sama-sama mengklaim. Namun, berdasarkan penulusuran tim reportase Sinergia, dapat diklasifikasikan bahwa ide awal membangun sebuah pengajian khusus waria dari Maryani dan sang kyai. Akan tetapi ide pelembagaan menjadi sebuah pesantren adalah atas prakarsa dan inisiasi serta dukugan dari PKBI. “Jadi PKBI memang menginisiasi dan memfasilitas”, terang waria asal klaten itu disela-sela wawancara di kediamannya.
Dalam peresmian pondok pesantren yang dari segi penamaannya sarat kontroversial itu, hadir juga beberapa element masyarakat. Termasuk juga didalamnya pejabat pemerintahan dan tentuya Kyai Hamrulie sendiri. “pada waktu itu ada pak Bagus Subarjo anggota DPRD Yogyakarta, dari fraksi golkar”, tandas Maryani.
Sesekali terlihat gadis kecil kesanyangan yang diasuhnya sejak masih berumur 9 jam itu berjalan-jalan didepan kami. Terlihat juga gadis kecil itu sesekali menyempatkan dirinya ke pangkuan Maryani dan Maryani pun mengelus-elus keningnya dengan penuh kasih sayang. Sungguh terlihat jelas kasih sayang diantara mereka. Bak seorang ibu dan anak kandung sendiri. “Untuk lembaga saya sempat berkunjung ke LKiS, Aji Damai, dan mereka pun mendukung. Dan kemudian dari PKBI juga, mereka sangat mendukung sekali. Pernah juga memberikan pelatihan untuk salon dan penyuluhan kesehatan sekaligus cek kesehatan gratis, kan akhir-akhir ini banyak penyakit HIV,” lanjut waria berumur 40 tahun itu sambil mengingat-ingat kembali peristiwa itu.
Seiring perkembangannya, selama 2 tahun berjalan tentu banyak hal-hal yang telah dilalui. Baik itu berupa gejolak-gejolak yang timbul dari eksternal pesantren maupun dari internal pesantren. Dari internal pesantren sendiri pernah sesekali aktifitas pesantren vakum. Penyebabnya, sang kyai pernah “nyeleneh” dari tujuan awal berdirinya pesantren waria sendiri. “Jadi kemarin begini, pak Kyai pernah mengatakan bahwa pesantren ini ditujukan untuk pertobatan.” Cerita Sonya, waria yang masih berumur 26 tahun itu. “Ya kami tidak setuju, kan pesantren ini dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan teman-teman waria saja, bukan memaksa waria untuk kembali ke kodratnya.” Lanjutnya.
*Tulisan ini sudah di publikasikan di Majalah Sinergia LAPMI SINERGI HMI Cabang Yogykarta pada edisi Juli-Agustus 2010
Kemarin malam, saya berkunjung ke tempat teman, eks teman satu wisma dulu. Beliau dulunya dari fakultas teknik. Meskipun demikian, kesibukannya kini bukan di perusahaan, karena ia memilih untuk menyibukkan diri dengan menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan, bukan hanya menghafalkan Al-Qur’an semata, tetapi beliau juga berazzam untuk mengambil sanad minimal satu dari 10 qiraat.
Secara pribadi, saya paling suka kalau main ke tempat beliau, karena “pembicaraannya” tidak seperti pembicaraan manusia pada umumnya. Banyak nasehat yang dinukil dari kalamullah, hadits, atau petuah salaf sehingga membuat hati tidak bosan untuk mengambil faidah. Demikianlah persangkaan saya berdasar dzahir yang saya lihat, dan tidak bermaksud menyucikan seorang pun di hadapan Allah ta’ala.
Maka, tanpa terasa kunjungan saya pun sampai terlalu larut hingga jam dinding menunjukkan waktu hampir pukul dua belas malam. Di antara nasehat terakhir sebelum berpisah; beliau mewanti-wanti untuk menjauhi tempat-tempat dan sebab-sebab fitnah yang merusak. Katanya, nabi memberikan pesan bahwa jika seseorang mendengar kemunculan Dajjal di akhir zaman nanti, jangan penasaran untuk melihatnya, tetapi begitu mendengar nama Dajjal, segeralah lari menjauh. Ini juga merupakan petunjuk bahwa kita jangan main-main dan merasa aman dari fitnah yang merusak. Seseorang yang lama belajar agama, tidak bisa dijamin dirinya akan selamat di akhir hidupnya nanti. Maka, jauhilah fitnah yang merusak sejauh mungkin, jangan coba-coba penasaran lalu mencicipi masuk ke dalamnya.

Terdapat sebuah kisah nyata yang belum lama ini terjadi, ada seorang ikhwan, kesibukannya adalah menghafal Al-Qur’an, bahkan katanya sudah disebut hafizd. Di tempat lain, ada juga seorang akhwat yang hafizhah.

Dalam suatu waktu, diselenggarakan daurah kajian Ustadz di tempat yang tidak jauh dari mereka berdua berada. Entah karena sekadar ingin mencoba ta’aruf, atau sekadar ingin mengenal satu sama lain, atau entahlah alasan-alasan yang lain, mereka bersepakat untuk hadir dalam daurah Ustadz tersebut.

Usai daurah, mereka berdua bersepakat untuk berpapasan. Qadarullah, di saat mereka berpapasan, Allah menurunkan hujan. Karena basah kuyup, mereka mencari tempat untuk berteduh. Di saat mereka berada di tempat berteduh tersebut, setan menggoda mereka akhirnya terjadilah perbuatan yang menyedihkan, zina. Na’udzubillahi min dzalik.
Kisah di atas bukan fiksi, tetapi kisah nyata yang belum lama terjadi. Alhamdulillah pelaku zina tersebut kini sudah bertaubat (mudah-mudahan Allah menerima taubatnya dan menutup aibnya), dan membolehkan cerita ini disampaikan untuk menjadi ibrah (pelajaran), dengan tidak menyebut nama pelaku.

Usai menceritakan kisah tersebut, kawan saya ini mengingatkan bahwa tujuan kita hidup ini adalah mencari jalan menuju surga, yang belum pernah kita rasakan. Nah, tidakkah kita ingat bahwa nabi Adam alaihis-salam yang sudah merasakan kenikmatan surga tanpa kekurangan suatu apapun, masih saja terkena godaaan iblis untuk mendekati pohon yang dilarang Allah untuk didekati? Apalagi kita yang hidup di bumi yang penuh kekurangan, ketidaknikmatan, dan kalaupun ada kenikmatan, belum ada apa-apanya dengan kenikmatan surga? Maka, kemungkinan untuk termakan godaan iblis untuk menikmati kenikmatan tipuan lebih besar lagi. Wal’iyadzu billah.

Lihatlah contoh pemuda-pemudi penghafal Al-Qur’an ini. Bandingkan dengan kita yang mungkin minim atau hampir tidak punya hafalan Al-Qur’an, apalagi belajar agama. Apalagi perhatikan, mereka berdua tidak janjian di tempat pelacuran, tempat cafe, atau karaoke malam, tetapi janjian di tempat daurah, tempat majelis ilmu. Maka, ingatlah bahwa iblis tidak akan menyerah menggoda anak keturunan Adam. Apalagi, iblis memilki pengalaman dari zaman Adam hinggga zaman sekarang untuk menyesatkan manusia. Kurang pengalaman apa lagi? Jika orang shalih saja masih terkena rayuan iblis, maka kita yang pas-pasan ini harus lebih ekstra hati-hati.

Bersyukurlah kita yang masih diselamatkan Allah ta’ala dari maksiat besar. Namun, kita tidak tahu besok apakah kita masih aman dari maksiat atau tidak. Boleh jadi, sekarang kita memang di jalan yang lurus, tetapi besok? Maka, jika kita menyadari ini, masih ada waktu untuk mengistiqomahkan diri, dan bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang dulu pernah kita perbuat. Dan jangan lupa teruslah berdoa kepada Allah agar selalu istiqomah, karena keistiqomahan merupakan anugerah Allah.

Janganlah sekali-kali kita aman dari pebuatan maksiat. Maka, jauhilah sebab-sebab fitnah yang merusak. Jauhilah tempat-tempat yang bisa menimbulkan fitnah yang merusak. Selalu luruskanlah niat kita, karena kalau hati ini tidak lurus, amalan shalih yang selama ini kita lakukan tidak ada artinya.



Catatan Seorang Teman : 24, 2011
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, R.M. Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

PEMIKIRAN IBU KARTINI

Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.
Integrasi antara kekuatan sekuler dan kekuatan religius mestinya merupakan representasi ideal dalam kepemimpinan nasional. Kekuatan kelompok sekuler dapat diandalkan dalam kapa bilitas sedangkan kekuatan religius dapat mengimbanginya dengan moralitas. Namun harapan ini agaknya masih jauh dari kenyataan.
Pasca reformasi, santri memegang peran penting dalam kepemimpinan nasional. Setidaknya, kelompok ini memiliki akses kekuasaan yang lebih luas di banding sebelumnya. Peluang ini tak ubahnya seperti pembalikan terhadap fakta sejarah pada kepemimpinan Soeharto yang tidak memberi akses bagi kekuatan politik Islam untuk mengambil peran dalam kepemimpinan nasional. Rezim ini justru melakukan peminggiran secara sistematis terhadap kekuatan politik Islam.

Setelah Soeharto mundur, kekuatan politik Islam bangkit dan membalikkan fakta sejarah. Partai-partai Islam berlomba-loma dalam pemilu. Abdurrahman Wahid yang menjadi presiden setelah Habibie merupakan simbol santri par excelent. Pada saat yang sama Amien Rais terpilih sebagai Ketua MPR dan Akbar Tandjung sebagai Ketua DPR. Pada saat itu, praktis kepemimpinan nasional berada di tangan kaum santri.

Ketika Gus Dur dilengserkan dari kursi presiden, Megawati yang menggantikannya didampingi oleh Hamzah Haz yang merupakan figur politisi santri. Dalam pemilu 2004, partai-partai Islam kian marak. Disamping itu, semua calon presiden yang maju dalam pemilihan presiden merupakan pasangan antara figur santri dan nasionalis. SBY dan Jusuf Kalla yang kemudian memenangkan pemilu presiden adalah respresentasi dari dua hal ini.

Kecenderungan itulah yang oleh Kuntowijoyo (2004) disebut sebagai pragmatisme religius. Dalam pragmatisme religius, dikotomi sekuler-religius hilang. Tak ada lagi dikotomi santri-abangan. Bersama dengan hilangnya dikotomi sekuler-religius, menurut Kuntowijoyo, tidak akan ada lagi charismatic politics, power politics, dan politics of meaning. Pragmatisme religius mengintegrasikan yang sekuler dan yang religius. Pragmatisme religius adalah antropo-teosentrisme.

Kepemimpinan Moral
Kepemimpinan santri di pentas nasional diharapkan membawa nuansa yang berbeda dengan sebelumnya. Sampai batas tertentu, harapan ini berhasil diwujudkan, misalnya iklim keterbukaan yang lebih transparan, demokrasi yang lebih terjamin dan akses kekuasaan yang relatif terbuka bagi semua kelompok masyarakat.
Namun, dari segi perbaikan ekonomi, peningkatan kesejahteraan serta penegakan hukum yang berkeadilan, kepemimpinan santri masih harus diuji. Karena di bidang ini, tingkat keberhasilannya masih kecil. Kenyataan ini mengherankan, karena secara umum, kepemimpinan kaum santri di pentas nasional relatif memenuhi kriteria akseptabilitas, kapabilitas, dan integritas.

Akseptabilitas yang mengandaikan adanya dukungan riil dari sekelompok masyarakat yang menghendaki orang tersebut menjadi pemimpin sudah terpenuhi dalam pemilihan umum. Demikian juga kapabilitas yang menyangkut kemampuan dan kecakapan untuk menjalankan kepemimpinan. Meski kapabilitas kaum santri yang duduk dalam kepemimpinan nasional tidak sangat memuaskan seperti yang diharapkan, setidaknya mereka telah didampingi para ahli, teknokrat dan kelompok profesional di bidangnya masing-masing. Sehingga problem kapabilitas mestinya sudah tidak ada masalah. Prasyarat yang masih dipertanyakan adalah integritas. Sebab, integritas adalah komitmen moral untuk berpegang teguh dan mematuhi aturan main yang telah disepakati dan sekaligus kesediaan untuk tidak melakukan pelanggaran terhadapnya.

Tanpa akseptabilitas, seorang pemimpin akan mudah dipertanyakan keabsahannya karena tidak memiliki legitimasi yang kuat. Sebaliknya, tanpa kapabilitas, seorang pemimpin tidak mungkin bisa menjalankan kepemimpinannya dengan baik karena dia tidak dilengkapi dengan kompetensi yang memadai. Namun akseptabilitas dan kapabilitas menjadi tidak ada gunanya jika tidak didukung oleh integritas. Tanpa integritas, seorang pemimpin mudah terjemurus dalam sikap sewenang-wenang. Dengan sendirinya berbagai bentuk penyelewengan moral akan mudah terjadi. Aspek terakhir inilah yang sering disebut sebagai kepemimpinan moral. Rendahnya kepemimpinan moral sering dianggap sebagai salah satu faktor yang membuat kondisi bangsa ini tidak segera beranjak pada keadaan yang lebih baik.

Dilema Kekuasaan
Integrasi antara kekuatan sekuler dan kekuatan religius mestinya merupakan representasi ideal dalam kepemimpinan nasional. Kekuatan kelompok sekuler dapat diandalkan dalam kapabilitas sedangkan kekuatan religius dapat mengimbanginya dengan moralitas. Namun harapan ini agaknya masih jauh dari kenyataan. Banyak analis menyebutkan bahwa kegagalan untuk memenuhi harapan masyarakat luas disebabkan oleh parahnya kondisi sosial, ekonomi dan politik bangsa ini. Ini masih ditambah dengan tidak adanya keberanian moral dari pemimpin untuk melakukan terobosan. Monopoli kekuasaan yang nyaris terpusat di lembaga legislatif menjadi persoalan lain yang tak kalah krusialnya. Para politisi santri yang duduk di parlemen tidak jauh berbeda dengan politisi sekuler.

Mengapa politisi santri tidak berhasil membangun moralitas di parlemen? Bukankah mereka adalah representasi dari religiusitas? Eberhard Puntush (1986) punya analisis menarik soal ini. Menurutnya, ada tiga tekanan yang membahayakan kepribadian politisi. Pertama, ia terlalu dibebani secara intelektual. Ia dituntut suatu tingkat kemampuan yang tidak dimilikinya karena melebihi daya tampung biasa suatu kepala. Ia terjebak pada ketidakmampuan dalam banyak bidang dan sekaligus harus menyembunyikan ketidakmampuannya itu. Menurut Puntush, itulah awal dari merebaknya ketidakjujuran.

Tekanan kedua bagi seorang politisi, adalah adanya paksaan untuk bersikap solider pada partainya dan wakil-wakil dari partai tersebut, walaupun tingkah laku rekan-rekan satu partai itu melukai cara pandang etisnya sendiri. Menurut Puntush, politisi sering harus menutup-nutupi kesalahan-kesalahan rekan-rekannya separtai. Ia harus membela pendapat rekan-rekannya meskipun pendapat itu salah. Membohongi masyarakat umum dianggap prestasi.

Tekanan ketiga, adalah paksaan untuk mampu menahan kritik umum yang tidak adil. Kritik umum biasanya membandingkan keberhasilan yang ada dengan keberhasilan yang sebaiknya dapat dicapai; dan dengan cara itu di mana-mana terlihat adanya kekurangan. Dari lawan-lawan politiknya, politisi hanya bisa menerima lebih sedikit lagi keadilan. Karena partai-partai itu saling bersaing, maka upaya merendahkan lawan dengan sendirinya meningkatkan posisi mereka sendiri. Akibatnya, menurut Puntush, kemampuan politisi untuk menerima kritik semakin menurun.

Karakter yang digambarkan di atas hampir semuanya – kalau tidak seluruhnya – tergambar dalam tingkah laku politisi kita. Sebagai personifikasi dari religiusitas, kepemimpinan santri mestinya lebih bisa konsisten dalam memegang teguh moralitas, sehingga berbagai kebijakan dan perilaku politiknya betul-betul dituntun oleh etika. Namun, etika dan moralitas tidak cukup hanya diserahkan kepada individu yang bersangkutan sebagai komitmen pribadi, tetapi harus dilembagakan dalam aturan main. Jika tidak, moralitas akan berbenturan dengan tekan-tekanan yang, menurut Puntush, hanya akan merusak karakter orang yang bersangkutan

Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim dan muslimah untuk menutup aurat, tidak hanya menutup,namun perkara wajib ini harus di jaga setiap saat.Di era globalisasi seperti yang kita rasakan sekarang ini, setiap budaya berpakaian mengalami perubahan yang sangat mencolok,di antaranya seperti, perempuan yang Mengenakan celana jeans atau halfjeans,perempuan yang menggunakan baju ngepas atau t-shirt, bahkan perempuan yang sama sekali tidak memakai jilbab.
Perubahan dalam budaya berpakaian ini merupakan indikasi kehancuran budaya berpakaian islam oleh perubahan zaman dan kecerobohan perseorangan dalam berpakaian.Melalui metode komparasi, persentase kebiasaan berpakaian islam sangat kecil ketimbang ala barat atau western. Remaja-remaja islam di indonesia, khususnya Aceh, mengalami perubahan yang sangat drastis,sebelum dan sesudah bencana Tsunami 26 des 04. Mereka yang ”terhipnotis” oleh style barat,seperti merasa bangga atas apa yang telah merek perbuat.Entah apa yang di banggakan?, bukankah kita sebagai orang islam harus bangga dengan budaya kita sendiri?,bahkan kita harus menjaga budaya kita sampai ke anak cucu berikutnya, coba anda renungi.
Add caption
Ketika negara mulai tidak bisa mengadili seseorang dengan baik, banyak masyarakat mulai kecewa dengan sikap pemerintah saat ini. Sungguh ironis jika masalah kecil bisa diperbesar sedangkan masalah besar tidak sesuai dengan hukuman dan tidak mendapatkan perlakuan yang sama dengan mereka (Rakyat Miskin), memang mereka itu bersalah apakah cara memperlakukan harus dibedakan dengan seorang pidana Korupsi. Tidak sesuai dengan harapan masyarakat, jika seorang yang mempunyai harta lebih tidak di adili sesuai tindakan yang di lakukan.
Gempar gempur mahasiswa di seluruh Indonesia, untuk menuntut keadilan hak mereka para akttifis ingin memperjuangkan rasa keadilan bagi mahasiswa lain. Banyak aksi untuk para pemuda pemudi di Indonesia yang ingin memperjuangkan keadilan di negeri ini, aksi begitu sering terjadi di mana-mana namun belum ada jawaban dari pemerintah setempat. Kasus besar selalu di pandang sebelah mata oleh pemerintah tidak mau mengusut lebih tuntas dan lebih detail dan kenapa kasus kecil selalu di besarkan.
Sehingga tidak terkecuali orang-orang miskin, yang minim dengan perekonomian selalu di persulit ketika akan menegak kan keadilan dan menuntut hak mereka. Apakah hukum di negeri ini selalu berpihak kepada orang-orang yang mempunyai kehidupan layak, perekonomian yang serba kecukupan, tanpa melihat kalangan bawah tanpa melihat situasi dan kondisi.
Meski mereka salah namun keadilan dan hukum seharusnya bisa bertindak lebih adil dalam menjalankan tugas, apa pun akibatnya ini semua demi kepentingan bersama. Sampai saat ini keadilan selalu memilih jalan yang salah, entah kenapa pemerintah tidak bisa berfikir secara bijak, tidak bisa mengadili dengan baik semua ada proses semua butuh waktu tidak langsung sekejab bisa merubah negeri ini bisa damai.
Korupsi semakin meraja lela, buat seorang mahasiswa selalu mendukung yang lemah, meminta keadilan sesuai dengan apa yang telah di lakukan, tindakan kurang tegas membuat masalah demi masalah semakin menumpuk di mana-mana, tanpa ada satu pun permasalahan yang bisa terselesaikan dengan baik, akibatnya seluruh penjuru nusantara ingin melihat kedamaian, sejatera dalam menjunjung nama bangsa, anak negeri mulai bisa membuktikan kalau Indonesia layak sejajar dengan negara-negara lain.
Tidak seperti sekarang selalu memandang sebelah mata, bagi orang-orang lemah, miskin. Tetapi kenapa seorang korupsi selalu di kasih fasilitas mewah. Adilkah semua ini.
Di mana kau seorang pemimpin, lihatlah rakyatmu menderita dengan hempitan korupsi-korupsi di negeri ini.

Suara motor begitu kencang, sehingga membuat telinga tak bisa mendengar suara-suara yang berada di sekitar-Nya. Asap motor berada di depan mata sehingga sulit untuk melihat ke depan meski dengan kecepatan kurang lebih 75 Km membuat suasana sangat tegang dan hampir saja tidak bisa menjaga keseimbangan dengan baik, namun dengan rasa percaya dan yakin bisa melewati Truk di depan, sehingga dengan terbiasa berada di pinggir jalan sepanjang waktu membuat, pengalaman tersendiri.
Sehingga dengan mudah bisa di lewati begitu saja, meski perasaan was-was namun tak ada salah-Nya jika mencoba untuk melewati satu Truk contener. Saat akan melintas sering berkhayal tidak-tidak dengan suasana yang tidak biasa, dengan proses begitu panjang semua bisa terlewati dengan mulus, namun masih panjang perjalanan menuju tempat tujuan. Sering mengalami hal-hal yang tidak di inginkan sepanjang perjalanan namun begitu bersabar menunggu untuk bisa berjalan kembali, saat menunggu hanya bisa melihat tak ada yang bisa di lakukan kecuali berdiam diri sambil mengisap sebatang rokok.
Hal ini sering di alami, namun suasana tegang sedang diburu waktu membuat suasana tambah sulit, belum lagi uang yang pas-pasan dengan menahan rasa lapar, haus, panas membuat perjalanan ini terus berlanjut, meski tanpa satu orang yang menemani tetapi percaya dalam hati dan Allah SWT yang telah melindungi ku di sepanjang perjalanan menuju arah tujuan ku selanjutnya.
Tak bisa melihat ke mana arah dan tujuan ku akan berkahir degan apa adanya, semua bisa di lewati begitu saja, namun tak ada satu pun di setiap perjalanan membuat suasana sangat indah dan damai. Dengan jerih payah, usaha terus untuk bisa mencapai tempat di mana akan berlabu selanjutnya, meliwati bukit-bukit, panas, hujan semua bisa di lewati dengan selamat
Di setiap perjalanan tidak sedikit-Nya mengalami hal-hal yang mungkin tidak di inginkan, tetapi dengan rasa syukur kepada Allah SWT semua bisa di lewati dengan jerih payah, sehingga membuat suasana hati ini bisa terkendali meski tidak semua-Nya bisa di lewati dengan mudah.

Sinar pagi membuat semua ruangan terasa sejuk, udara menembus dinding kamar. Dengan sinar yang terang namun baru saat ini saja bisa bangun pagi, sebab semua orang rumah pada keluar hanya seorang diri dalam rumah, meski hari sabtu tak ada bagusnya buat aku sendiri, sebab sama saja dengan hari-hari biasa apa enaknya juga dengan semua ini hanya seperti biasa-biasa saja tanpa ada rasa bahagia sama sekali.
Semua di jalani apa adanya saja, tak perlu merasa benar atau salah. Namun ini semua dari perjalanan hidup dengan penuh angan-angan semata, jika semua bisa terwujud maka semua akan terasa lebih baik lagi, mimpi dan angan semua akan bisa di ambil dan tercapai. Jika benar-benar di jalani dengan semua ketulusan tanpa pamrih, saat ini banyak anak-anak yang masih belum bisa merasakan kenikmatan dan rasa kasih sayang terhadap orang yang benar-benar di cintainya.
Apa sampai saat ini Negara akan terus seperti ini, tidak ada perkembangan dalam mendidik anak-anak yang kurang mampu dalam meraih mimpi dan mimpi sehingga harus mengorbankan apa yang sudah menjadi takdir mereka. Sungguh tragis pada anak-anak yang mempunyai potensi lebih dan bakat kekuatan alam di miliki-Nya namun tak ada yang tau, hanya di biarkan begitu saja tak apa rasa belas kasih.
Akan ada sebuah keajaiban dengan semua ini, sudah berapa lama mereka harus menerima beban ini sendiri, sedangkan orang yang dicintainya harus pergi meninggalkan selama-lamanya. Tak ada satu pun untuk mengerti semua situasi ini, kenapa setiap orang tidak ada yang mempedulikan dengan semua ini, hanya duduk dan merasakan kekuasaan-Nya sambil menghamburkan uang dari mereka,
Nasib memang tidak selamanya baik, ada kalanya manusia tidak memiliki apa-apa. Namun tak selamanya demikian dengan usaha dan jerih payah, rasa ingin mengeluarkan bakat dan membuka pikiran untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka dengan kemampuan yang dimilikinya, sebab bakat mereka lebih baik dari pada orang-orang yang memiliki harta yang sedemikian rupa, tetapi tidak merasakan kebahagiaan yang belum pernah di rasakan, hanya uang dan uang. Sehingga apa saja akan di beli dengan uang.
Apa semua dapat dimiliki tanpa sesuatu yang belum di korbankan dengan apa yang sudah di miliki-Nya sehingga uang pun  berbicara.