Di Yogyakarta, segala macam daya cipta tampaknya bisa mewujud. Tidak
saja kreasi dalam berbagai karya seni, melainkan juga model apresiasi
dan kecintaan yang amat dalam terhadap agama. Sebuah paradoks spiritual,
manakala para pengikut agama menyingkirkannya, mereka yang disingkirkan
justru mendekati agamanya.
Begitulah kehidupan agama para waria di Yogyakarta. Mereka mendirikan
Pondok Pesantren Waria AL-Fattah, sebagai wujud religiousitas yang terus
tumbuh dan berkembang dalam dada mereka. Para waria merasakan, betapa
kehadiran mereka di dunia ini hanya dipandang sebelah mata, bahkan
seringkali dihina-hina, dikuyo-kuyo, seakan-akan Tuhan salah mencipta.
Di media kehadiran mereka hanyalah menjadi bahan tertawaan, banyolan
tidak bermutu. Kita tentu selalu ingat, nama Tesi, yang selalu menjadi
‘bolo dupakan’ dalam setiap pementasan Srimulat. Peran yang hanya
menjadi jalan bagi pemain lain untuk membuat para penonton tertawa
terpikal-pikal, perut kaku hingga mules. Sebuah acara reality show di
sebuah televisi swasta, juga dirancang sebagai bahan guyonan, meski yang
tampil memang para waria itu sendiri. Tetapi program ini jauh
menyakitkan, karena mengambarkan sebuah proses pengembalian waria
menjadi laki-laki sejati, yang berarti sedang menegasikan entitas waria
memang merupakan ciptaan Ilahi.
Dari saudara seagama, mereka juga mendapatkan penolakan kehadirannya.
Kita masih ingat, bagaimana para waria lari tunggang langgang ketika
sedang mengikuti sebuah Pelatihan Hak Asasi Manusia [HAM] di depok
beberapa bulan lalu. Tidak perduli, walaupun waria datang diundang oleh
lembaga terhormat, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia [KOMNAS HAM].
Meski begitu, mereka tetap teguh memeluk agamanya. Pesantren menjadi
pilihan untuk menjadi tempat mereka mendekatkan diri kepada sang
Pencipta, yang telah mentakdirkan mereka berwadag laki-laki, tetapi
dalam diri mereka terpenjara jiwa perempuan. Dan mereka yang berwadag
perempuan, tetapi dalam tubuh itu terperangkap jiwa laki-laki. Hanya
saja, untuk penciptaan yang kedua, memang tidak terlalu menampak dalam
kehidupan keseharian.
Para waria tampaknya tetap merasa yakin, sang Pencipta tetap mencintai
mereka, memberikan anugerah kepada mereka, dan tetap menjajikan surga
bagi merak yang beramal baik dan mengancam dengan neraka bagi mereka
yang beramal buruk. Seperti juga yang selalu dijanjikan dan diancamkan
kepada semua pemeluk agamanya. Mereka tak perduli bagaimana kehadirannya
disia-siakan oleh mereka yang seagama, bagaimana eksistensinya
ditolak-tolak oleh saudara seiman mereka.
Di Pesantren Al-Fattah, mereka tetap berdoa, membaca Alqur’an, dan
sembahyang berjama’ah. Mereka yang nyaman menggunakan sarung dan peci,
silakan mengenakannya. Mereka yang nyaman menggunakan mukena tak juga
harus dipersoalkan. Pada hari-hari yang telah disepakati, mereka
mengaji, di bawah bimbingan ustadz Abdul Muiz Ghazali, seorang mahasiswa
sekolah pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Yogyakarta.
Maka seperti juga di Pesantren dan di masjid-masjid lainnya, suara
takbir, tahmid, tahlil, selalu dikumandangkan. Proses taqorrub kepada
sang Pencipta terus berjalan tiada henti. Lalu, ada bisikan yang
menggelitik, “apa yang menjadikan kehadiran mereka ditolak?” “Mengapa
kita berani berprasangka, Tuhan telah melakukan kesalahan dengan
penciptaan-Nya, sehingga kehadiran waria seakan-akan tidak layak ada di
dunia ini?” Sebuah pertanyaan yang begitu lembut, yang bisa hadir dalam
setiap jiwa yang memiliki religiousitas, pertanyaan dalam setiap jiwa
kita, yang sama-sama beragama.***
Pondok Pesantren Khusus Waria Senin-Kamis, begitulah
yang tertulis pada plang sebuah bagunan yang tidak lain adalah sentral
kegiatan beribadah komunitas waria. Secara geografis, Letaknya berada di
sebelah timur tidak jauh dari Pusat perbelanjaan Malioboro. Tepatnya di
Desa Notoyudan Gg II/1294, RT 85 RW 24 Gedongtengen Yogyakarta.
Dari pinggir jalan raya Letjend Suprapto, posisi bangunan itu terlihat
seperti layaknya rumah biasa. Menghadap ke utara dengan arsitektur ala
rumah pribadi. Tidak ada suatu ciri khas yang mengidentikkan bangunan
tersebut sebuah Pondok Pesantren, dimana kegiatan keagamaan kaum waria
berpusat disana. Terkecuali hanya sebatas plang bermaterikan gabus
dengan kombinasi warna kuning-hijau-merah sebagai sebuah penanda.
Jalur Jalan berupa gang sempit dan posisi yang agak menurun sekitar 1,5
meter ke bawah membuat reporter Sinergia harus ekstra pelan dan
hati-hati dalam mengendarai motor ke area lokasi Ponpes. Tidak sampai 10
meter dari mulut jalan raya, pas dibibir turunan jalan, posisi kami
sudah persis di depan podok pesantren.
Melihat pintu rumah itu (pesantren,
red.) terbuka, kamipun
langsung mengetuk pintu. Hampir 3 menit menunggu dan 3 kali mengetuk
pintu, terlihat gadis kecil kira-kira berumur 9 tahunan keluar dari
dalam rumah seraya menyapa dengan lembut, “cari Ibu ya mas?”. Walau
mulanya agak sedikit ragu dengan kata “ibu” tadi, akhirnya kami pun
lantas menyahut “iya dek, ada?”, “bentar ya mas”.
Kemudian terdengar suara gadis kecil itu memanggil seseorang dengan
sebutan Ibu. Selang 1 menit, sesosok bertubuh besar dan berpenampilan
serba feminine pun keluar dari dalam. Itulah mungkin jawaban dari kata
“ibu” tadi, yang tidak lain adalah Maryani. Pendiri sekaligus pengasuh
Pondok pesantren khusus waria itupun menyapa dan mempersilahkan kami
masuk.
Dengan santai kamipun memulai perbincangan. Sekeliling ruangan terlihat
atribut-atribut islam seperti kaligrafi dan juga ada foto seorang
laki-laki dengan kopyah putih kokoh bersurban serta disampingnya ada
seorang perempuan yang menurut keterangan Maryani tidak lain adalah KH.
Hamrulie Harun, M.Sc. beserta istriya.
Beliau adalah figur kyai idola kaum waria yang telah menginspirasi
berdirinya pondok pesantren khusus waria senin-kamis. Lewat Pengajian
mujahadah al-Fatahnya yang tidak mengenal perbedaan status sosial
manusia, Maryani merasa nyaman berada dalam bimbingan spiritual sang
kyai. “saya seorang waria yang mengikuti pengajian mujahadah al-fatah
yang diadakan oleh pak haji hamroli yang memiliki tiga ribu jamaah
lebih, dan ternyata yang waria saya sendiri, kok saya masih diterima”.
Tutur Maryani.
Perasaan seperti itulah yang kemudian membuat Maryani tergugah untuk
mengajak teman-teman sesama waria dan membuat suatu pengajian khusus
untuk waria. Maka, diadakanlah pengajian khusus untuk waria itu pada
setiap minggu pon yang juga diasuh oleh kyai Hamrulie. “Yang datang
kadang-kadang satu atau dua orang.”
Dalam kesempatan lain, Sonya, salah satu pengurus Ponpes sekaligus
Kordinator Divisi Pengorganisasian Komunitas Waria PKBI Yogyakarta yang
pada saat itu juga memiliki peranan penting dalam hal advokasi
berdirinya pesantren waria menangatakannya dengan sebutan Pondok
Pengajian. “Tiap bulan sekali kita melaksanakan pengajian. Nah, pertama
kita mengadakan pengajian itu bisa mencapai ratusan jama’ah”, tuturnya
dengan nada dan gayanya yang khas. Angka tersebut mungkin berbeda jauh
dengan yang dikatakan Maryani. Namun, terlepas dari persoalan
angka-angka itu, hal ini jelas mengindikasikan bahwa pengajian sebelumya
memang pernah ada.
“Pertama pengajian ini saya adakan di tempat tinggal saya di Surokarsan.
Tetapi akhirnya ketika sudah berjalan ekonomi saya hancur total, dan
harta saya habis. Dan saya memutuskan untuk kembali ke daerah,” lanjut
Maryani. Fenomena tersebut kemudian membuat aktifitas pegajian sempat
vakum beberapa saat.
Akan tetapi, tidak lama setelahnya, gempa jogja pada 27 Mei 2006 yang
sampai saat ini masih menyisakan duka itu ternyata memberikan cerita
lain bagi komunitas waria. Dibalik kisah duka itu, ada sisi cerita lain
yang menjadi jembatan sejarah bagi berdirinya pondok pesantren khusus
waria senen-kamis. “Dan saya berinisiatif untuk mengajak teman-teman
waria dari kota Jakarta, Surabaya dan dari daerah-daerah lainnya untuk
berdoa bersama, ternyata banyak yang datang.” Antusias dan solidaritas
antar sesama waria pada waktu itu memberikan energi tersendiri bagi
orang yang pada masa kecilnya bergama katholik ini. “Akhirnya saya
berbicara kepada pak haji hamroli untuk membuka forum pesantren waria,
saya mengadakan pengajian khusus waria.”
Tepatnya pada tanggal 8 juli 2008, dibawah dukungan dan advokasi dari
PKBI (Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia) Yogyakarta Divisi
pengorganisasian komunitas waria, Pondok pesantren khusus waria
senin-kamis pun diresmikan. “PKBI disini mendorong dan memotivasi tokoh
pesantren waria yaitu Bu Maryani untuk bangkit lagi, dan PKBI
menginisiasi”, ucap Sonya mantap.
Disini agak terjadi kerancuan antara PKBI (sonya,
red.) dan
pihak ponpes sendiri ketika ditanya tentang siapa sebenarnya yang
mempunyai inisiatif awal karena semuanya sempat sama-sama mengklaim.
Namun, berdasarkan penulusuran tim reportase Sinergia, dapat
diklasifikasikan bahwa ide awal membangun sebuah pengajian khusus waria
dari Maryani dan sang kyai. Akan tetapi ide pelembagaan menjadi sebuah
pesantren adalah atas prakarsa dan inisiasi serta dukugan dari PKBI.
“Jadi PKBI memang menginisiasi dan memfasilitas”, terang waria asal
klaten itu disela-sela wawancara di kediamannya.
Dalam peresmian pondok pesantren yang dari segi penamaannya sarat
kontroversial itu, hadir juga beberapa element masyarakat. Termasuk juga
didalamnya pejabat pemerintahan dan tentuya Kyai Hamrulie sendiri.
“pada waktu itu ada pak Bagus Subarjo anggota DPRD Yogyakarta, dari
fraksi golkar”, tandas Maryani.
Sesekali terlihat gadis kecil kesanyangan yang diasuhnya sejak masih
berumur 9 jam itu berjalan-jalan didepan kami. Terlihat juga gadis kecil
itu sesekali menyempatkan dirinya ke pangkuan Maryani dan Maryani pun
mengelus-elus keningnya dengan penuh kasih sayang. Sungguh terlihat
jelas kasih sayang diantara mereka. Bak seorang ibu dan anak kandung
sendiri. “Untuk lembaga saya sempat berkunjung ke LK
iS, Aji
Damai, dan mereka pun mendukung. Dan kemudian dari PKBI juga, mereka
sangat mendukung sekali. Pernah juga memberikan pelatihan untuk salon
dan penyuluhan kesehatan sekaligus cek kesehatan gratis, kan akhir-akhir
ini banyak penyakit HIV,” lanjut waria berumur 40 tahun itu sambil
mengingat-ingat kembali peristiwa itu.
Seiring perkembangannya, selama 2 tahun berjalan tentu banyak hal-hal
yang telah dilalui. Baik itu berupa gejolak-gejolak yang timbul dari
eksternal pesantren maupun dari internal pesantren. Dari internal
pesantren sendiri pernah sesekali aktifitas pesantren vakum.
Penyebabnya, sang kyai pernah
“nyeleneh” dari tujuan awal
berdirinya pesantren waria sendiri. “Jadi kemarin begini, pak Kyai
pernah mengatakan bahwa pesantren ini ditujukan untuk pertobatan.”
Cerita Sonya, waria yang masih berumur 26 tahun itu. “Ya kami tidak
setuju, kan pesantren ini dimaksudkan untuk memfasilitasi kegiatan
keagamaan teman-teman waria saja, bukan memaksa waria untuk kembali ke
kodratnya.” Lanjutnya.
*Tulisan ini sudah di publikasikan di Majalah Sinergia LAPMI SINERGI HMI Cabang Yogykarta pada edisi Juli-Agustus 2010